MAU DUIT?!!!

Jumat, 23 Maret 2012

filsafat umum

FILSAFAT UMUM




Nama                           :  NURUL MUKARROMAH
NPM                            : 0821010007
Jur / Smt                      : AS / 1
Dosen Pembimbing     : Agus Salim, S.Ag
Mata Kuliah                : FILSAFAT UMU











FAKULTAS SYARIAH
JURUSAN AL-AHWAL AL-SYAKHSIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG
2009



1. PENGERTIAN FILSAFAT
      1) Menurut etimologinya berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata  yaitu Philos dan Shopia. Yang jug adapt di artikan sebagai suatu kecintaan kepada kebijaksanaan.
            Menurut terminologinya adalah berfikir dan merasa sedalam-dalamnya terhadap segala sesuatu sampai kepada inti persoalan.[1]
      2) Menurut Jujun S. Suriasumantri berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui.[2]
      3) Dari sekian banyak pengertian, Hasbullah Bakri menyimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai keTuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu. [3]
      4)  Menurut Hasyimsyah Nasution, filsafat adalah hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat dalam sesuatu secara sistematis, radikal dan universal.
            Sedangkan secara etimologinya menurut Hasyimsah N, adalah “ Cinta akan kebijaksaan”.  [4]

                        Dan disini saya lebih setuju dengan pendapatnya hasyimsah N, karena yang sebenarnya sivari dari filsafat itu sendiri adalah setelah kita mencari dan menemukan hasil atau hakikat dari sesuatu itu kita dapat berfikir dan bertindak secara bijaksana.

2. TIMBULNYA FILSAFAT
      1) Menurut Jujun S.S adanya filsafat dimulai dengan rasa ingin tahu dan kepastian yang dimulai dengan rasa ragu-ragu. [5]
      2) Menurut Hasyimsah N, filsafat itu timbul di mumngkinkan karena keinginan tahu manusia yang besar sebagai refleksidari potensi kemanusiaan yang dimilikinya yang dianugerahkan Allah SWT yaitu akal, intuisi, alat deria, dan kekuatan fisik. [6]
      3) Dari tahayul atau dongeng diantara orang-orang yang tidak percaya, ia kritis ingin mengetahui kebenaran itu[7]
      4) Keindahan alam besar terutama ketika malam hari, keinginam ,mengetahui rahasia alam.
                        Dari keempat pendapat diatas saya lebih condong dengan pendapatnya Hasyimsah Nasution, karena manusia berfilsafat karena manusia ingin tahu dari sesuatu yang belum mereka ketahui dengan cara yang telah dimilikinya yaitu anugerah dari Allah SWT yang berupa akal, intuisi, dan lain sebagainya. [8]

3. MANFAAT
      1) Manfaat filsafat ada empat macam: agar terlatih berfikir serius, agar mampu memahami filsafat, agar mungkin menjadi filosof, dan agar menjadi warga negara yang baik.[9]
      2) Menurut Dr. Oemar A. Husein. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib akan kebenaran.[10]
      3) menurut S. Takdir Alisyabana, filsafat memberikan ketenangan pikiran-pikiran, dan pemantapan hati sekalipun menghadapi maut.
                        Saya lebih condong dengan pendapatnya S. Takdir A. karena dia tela memiliki ilmu dan hakikatnya itu sendiri dan sudah dapat berfikir dengan bijaksana jadi dia akan tetap hidup dengan tenang.[11]


4. CARA MEMPELAJARI
      1) Metode Historis: yakni dengan mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang.[12]
      2) Metode Sistematis: yaitu dengan cara mempelajari isi yakni mempelajari lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang terentu. [13]
      3) Metode Kritis: digunakan oleh orang yang mempelajari filsafat tingkat ini secara intensif, pelajar seharusnya sedikit telah mengetahui filsafat. [14]

                        Karena saya masih berstatus pelajar, jadi saya lebih setuju dengan metode histories ataupun sistematis. Karena itu masih kita pelajari dari dasarnya, tapi tidak untuk metode kritis karena itu lebih cocok untuk para filosof atau setidaknya sudah banyak menguasai ilmu filsafat saperti Guru atau Dosen.

5. OBJEK FILSAFAT
      1) Menurut Jujun S. S selaras dengan dasarnya yang spekulatif maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat di fikirkan oleh manusia,[15]
2) Menurut Oemar Husein ada 2 objek, yaitu: Agama dan alam semesta beserta isinya, [16]
3) Menurut Inu Kencana S, juga ada 2 objek yaitu:
          a. Objek Material : sesuatu yang akan diamati, diteliti dan dipelajari sera di bahas dalam kajian ini.
      b. Objek Formal: pusat perhatian atau sudut pandang.[17]

                  Dalam hal ini saya lebih sependapat dengan Jujun S. yakni bidang yang ditelaah adalah segala sesuatu yang mungkin dapat difikirkan oleh manusia. Karena dengan teori ini saj sudah mencakup teori-teori yang lain(yang disebut diatas).

6. KARAKTERISTIK
      1) Menurut Jujun S. S. ada  tiga karakteristik berfikir filsafat, yaitu:
      a. Sifat menyeluruh. Jadi mengenal ilmu itu tak hanay dari segi pandang ilmu itu sendiri namun juga dengan konstelasi pengetahuan yang lain.
      b. Sifat mendasar. Artinya berfikir itu harus mendasar yakni dari awal dan dari dasarnya terlebih dahulu.
      c. Sifat spekulatif.  Sifat ini, sifat yang secara terus terang tidak dengan menyeluruh juga tidak mendasar. Intinya sifat ini hanya pada satu titik temu tidak peduli harus menyeluruh ataupun mendasar.[18]
      2) Menurut Baharuddin, karakteristik berfikir filsafat itu ada tiga sama seperti yang di jelaskan oleh Jujun S. yaitu: menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.[19]
                        Jadi mnurut saya yang lebih baik itu adalah ynag sifat mendasar. Jadi kalau mengenal ilmu itu harus dari dasarnya dulu baru di perdalam, dan tidak harus menyeluruh kesemua ilmu lain, tapi jika menyeluruh drai satu ilmu saja mungkin itu lebih baik. Dan jika sudah menguasai ilmu tersebut barulah saja bisa diperlebar dan diperluas dengan mempelajari ilmu yang lain.









DASAR-DASAR PENGETAHUAN
  
1. PENALARAN
      1) Penalaran adalah suatu proses berfikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan[20]
      2) Penalaran adalah bicara dengan dirinya sendiri di dalam batin mempertimbangkannya, merenungkannya, menganalisa, membukikan sesuatu / menunjukkan alasan-alasan menarik kesimpulan meneliti suatu jalan fikiran.[21]
      3) Penalaran di bagi menjadi dua yaitu:
      a. Penalaran deduksi: metode penalaran yang menurunkan sesuatu kesimpulan sebagai kemestian dari pernyataan yang merupakan pangkal piker.
      b. Penalarn induksi: metode penalaran ynagt berdasarkan sejumlah hal ynag khusus untuk tiba pad asuatu kesimpulan yang bersifat boleh jadi. Maksudnya boleh benar juga boleh salah[22].
                        Menurut saya, saya lebih sependapat dengan pendapat yang no.3 karena setiap manusia itu tidak sama  satu sama lainnya. Ada yang berfikir dari umum ke khusus dan ada juga yang dari khusus ke umum.

2. LOGIKA
      1) Logika adalah pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan cara-cara berfikir yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran.[23]
      2) Logika secara luas dpat didefinisikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara shahih atau benar.[24]
            Disini terdapat dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni:
a. Logika induktif, erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum..
b. Logika deduktif, yang mebantu kita dalam penarikan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus.
      3) Logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berfikir lurus.[25]
                        Disini saya lebih sependapat dengan komentar yang pertama, karena berfikir logis, berarti kan berfikkir secara logika, dan berfikir logis juga itu berarti sebelum dia berkomentar dia telah berfikir secara logika atau benar dn telah mempelajariaturan-aturannya dan menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu.
3. SUMBER PENGETAHUAN
      1) Pasalnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yakni:
            a. Mendasarkan diri pada rasio
               manusia jika ingin mencari pengetahuan berdasarkan rasionya sendiri, dia akan bisa menemukan kebenaran, namun tak selamanya seperti itu, bisa saja salah karena rasio manusia pun terbatas kemampuannya.
b. Mendasarkan diri pada pengalaman.
               Seseorang yang mencari pengetahuan berdasarkan pada pengalaman biasanya dia bisa lebih mengetahui kebenaran yang sebenarnya, dibandingkan dengan mendasarkan diri pada rasio saja, karena kalau pengalaman dia akan mengalami dan mengetahui sendiri permasalahnnya. Langsung ada bukti gitu.[26]
      2) Menurut Baharuddin. Kita dapat mendapatkan penetahuan yang benar dengan cara: a. mendasarkan diri pada rasio
                b. mendasarkan diri pada pengalaman.
                c. dari wahyu[27]
                        Sumber yang didapat dari wahyu itu pasti lebih banyak benarnya karena merupakan pengetahuan yang datangnya dari Allaj SWT, yang di turunkan kepada Rosulullah dengan perantara malaikat jibril, dan oleh Rosul di sebarkan kepada umat-umatnya. Jadi saya lebih sependapat dengan pendapat yang kedua, karena selain mendasar diri kepadsa rasio dan pengalaman kita juga harus mempelajaripengetahuan berdasarkan wahyu, biarpu wahyu itu datangnya tidak langsung kepada kita melainkan banyak perantara.

4. KRITERIA KEBENARAN
      1) Secara sederhana dapar disimpulkan bahw berdasarkan teori hoherensi suatu pernyataan di anggap benar, bila pernyataan itu bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan-parnyataan sebelumnya yang di anggap benar. [28]
      2) Menurut faham objektivisme, yang dinamakan kebenaran adalah suatu keadaan yang menunjukkan adanya kesesuaian antara fikiran manusia mengenai suatu objek tertentu.[29]
      3) Menurut faham subjektivisme , ynag dinamakan kebenaran itu adalah suatu kesadaran yang menggambarkan bahwa dalam kesimpulan terakhir kebenaran ada pada si subjek, bukan pada objeknya.[30]
                        Disini saya lebih sependapat dengan pendapat yang pertama yaitu berdasarkan teori koherensi, sebagai suatu contoh, setiap manusia yang hidup didunia ini pasti sebelum mengalami masa dewasa, dia pernah mengalami masa kanak-kanak. Ini  benar. maka pernyataan bahwa “si fulan sebelum dia sebesar dan sedewasa ini ia telah melalui dan mengalami masa kanak-kanak”, adalah benar pula, karena pernyataan yang kedua adalah koheren dan konsisten dengan pernyataan yang pertama.


PERBANDINGAN
1. FILSAFAT DAN AGAMA
      1) filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran sedalam-dalamnya[31]
      2) Agama ialah kerap kali kita membaca dan mendengar orang mencoba mencari dn menerangkan arti agama dari segi etimologi, berasal dari dua kata, a: tidak, gama: kacau. Jdi orang beragama orangnya tidak kacau[32].
      3) Agama adalah apabila kita kaji etimologinya, kata agama membawa kit kepada bahasa sansekerta, akar agama adalah kata a-gama , -a ialah gam,  yang berarti pergi atau berjalan.[33]
                        Jadi hubungannya antara filsafat dengna agama adalah sama-sama ke jalan yang benar/ lurus. Sebab orang yang berfilsafat dan beragama akan berfikir lurus dalam mencari sesuatu.

2. FILSAFAT DAN ILMU
      1) Ilmu itu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang di susun dalam satu sistema mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian dan hukum-hukum hal yang di selidikinya.[34]
      2) Filsafat ialah “ ilmu istimewa “ yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Karena masalah-masalah bermaksud di luar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. [35]
      3) Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami.[36]
      ~(persamaan filsafat dan ilmu)~   
      4) bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hal yang sama[37]
      5) Perbedaan:
            ilmu dan filasafat keduanya bersumberdari akal, budi, rasio, nous, bednya ilmu mencari kebenaran dengan cara penyelidikan, pengalaman dan percobaan. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menulangkan (menggambarkan atau mengenalakan).[38]
      6) Baik filsafat dan ilmu sama-sama mencari pengetahuan, dan pengetahuan yang dicari itulah pengetahuan yang benar. dalam segi ini maksud keduanya sama. Tetapi dalam persamaan ada juga perbedaan, pengetahuan ilmu melukiskan sedangkan pengetahuan filsafat menafsirkan.[39]
                        Disini saya setuju dengan pendapat yang no 6 karena memang ilmu itu melukiskan dan filsafat menafsirkan.

3. FILSAFAT DAN KEBUDAYAAN
      1) Apabila kita bandingkan definisi kebudayaan dan filsafat keduanya bertemu dalam hal berfikir. Kebudayaan adalah cara berfikir, sedangkan filsafat berfikir secara sistematis.[40]






















FILSAFAT PADA ZAMAN YUNANI KUNO

1. PLATO (427-347 sM)
      1) Dunia yang sebenarnya itu adalah dunia idea. Idea-idea yang ada disana itu realitas yang sebenarnya, yang merupakan contoh dan pawing bagi hal di dunia ini. Manusia itu terus menerus ada di dunia bayang-bayang saja. melainkan haruslah ia   kembali ke asla mulanya untuk selama-lamanya memandangi idea-idea ”kebaikan”.[41]
      2) Plato berpendapat bahwa suatu masyarakat harus dibangun atas tiga lapisan, sesuai dengan 3 daya utama yang menjadi sumber perilaku manusia. Plato berpendapat bahwa perilku manusia bersumber pada 3 daya utama, yaitu: gairh, perasaan, dan kecerdasan, masing-masing dengan pusatnya di perut, di dada, dn di kepala.[42]
      3) Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-ubah dan warna-warn, semua itu adalah bayangan dari dunia idea.
            Tingkat idea tertinggi adalah idea kebaikan, dibawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, dan politik. [43]
      4) Intisari dari filosofi plato adalah pendapatnya tentang idea. Itu adalah suatu ajaran yang sangat sulit memahamkannya. Salah satu sebab ialah bahwa fahamnya tentang idea selalu berkembang. Bermula idea itu dikemukakannya sebagai teori logika, kemudian meluas menjadi pandngan hidup, menjadi dasr umum bagi ilmu dan politik sosial dan mencakup pandangan agama.[44]
      5) Ajaran tentang idea-idea merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Bagi dia idea merupakan sesuatu yang objektif. Ada idea-idea terlepas dari subjek yang berfikir. Idea-idea tidak di ciptakan oleh pemikiran kita. Idea-idea tidak tergantung pada pemikiran-pemikiran, sebaliknya pemikiran tergantung pada idea-idea. Justru Karena ada aide-ide yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimugkinkan pemikiran itu tidak lain daripada menaruh perhatian kepada idea-idea itu. [45]
                        Jadi pemikiran yang dikemukakan oleh Plato pada zaman Yunani kuno itu adalah semua bersumber dari idea, karena idea adalah intisari dan dasar dari pemikiran.



2. SOCRATES (465-399 sM)
      1) Falsafah pemikiran Socrates diantaranya ia menyatakan adanya kebenaran objektif, ialah yang tidak bergantung kepada saya dan kita. Dalam membenarkan kebenaran yang objektif ia menggunakan metode tertentu, yang dikenal dengan metode     dielektika yang berasal dari Yunani yang berarti bercakap-cakap atau berdialog. [46]
      2) Menurut Socrates ada kebenaran objektif, yang tidak tergantung pada saya atau pada kita. Ia hanya memperhatikan hidup praktis saja, yaitu tingkah laku manusia, itulah sebabnya lebih tepat kita merumuskan   keyakinan Socrates dengn mengatakan bahwa menurut ia bukan sembarang tingkah laku boleh disebut baik. Ada kelakuan yang baik juga ada kelakuan yang kurang baik, ada yang pantas dan ada yang jelek[47].
      3) Ajaran Socrates dipustkan kepada manusia. Ia mencari pengertian yang murni dan sebenarnya: pengertian sejati, caranya ialah dengan mengamat-amati yang konkrit dan  bermacam-macam coraknya dan setelah kemudian dibilang yang berbeda dan muncul yang sama, maka timbullah pengertian yang sejati itu. [48]
      4) Bagi Socrates lebih utama mempersoalkan siapakah manusia itu, dan sebelum mulai menjelajahi persoalan itu, setiap manusia harus mulai dengan ikhtiar mengeal dirinya sendiri. Maka menurut Socrates, setiap usaha berfisafat harus diawali dengan tugas “ Gnothi Seuton” (kanalilah dirimu) .[49]
      5) Jalan berfikir Socrates dapat diringkas sebagai berikut, adalah tugas manusia untuk menjaga keselamatan jiwanya, yang lebih berharga dibanding raganya. Jiwa bukan sekedar nyawa manusia, melainkan suatu azas hidup dalam arti yang lebih dalam, ia adalah hakikat manusia sebagai pribadi yang bertanggungjawab, sekedar hidup begitu saja tidak ada artinya, yang penting ialah hidup secara baik untuk dapat mencapainya manusia harus mempunyai penglihatan dalam yang murni.[50]


3. THALES (625- 545 sM)
      1) Meurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales adalah semuanya itu air. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok, dan dasar(principle) segala-galanya semua barang terjadi dari air dan semuanya kembali kepada air pula.[51]
      2) Menurut Aristoteles, Thales adalah filsuf pertama yang mencari Arkhe (asas atau prinsip) dan menurut Thales prinsip itu adalah air. Semuanya berasal dari air, dn semuanya kembali lagi menjadi air. Thales berfikir begitu karena bahan makanan semua makhluk memuat zat lembab dan demikian halnya juga dengan benih semua makhluk hidup.
            Pendapat Thales yang lain yaitu. “ semuany penuh dengan dewa-dewa “ maksudnya bahwa jagat raya berjiwa, dn pendapa ini sering disebut “ hylezoisme “ (teori mengenai materi yang hidup).[52] 
      3) Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales adalah “ semua itu air”. Air yang cair itu adalah pangkal, pokok, dan dasar segala-galanya. Semua barang terjadi dripada air dan semuany itu akan kembali kepada air juga. Dalam ini dapat tersimpul dengan sengaja atau tidak suatu pandangan yang dalam, yaitu bahwa “ semuanya itu satu”.[53]
                        Jadi kesimpulan dari ajaran/falsafah  Thales adalah semua itu air, semua itu satu.


4. ZENO (490 sM)
      1) Menurut pendapatnya, jika keterangan lawan dinyatakan salahnya, pendirian Parmenides benar sendirinya .
            Sikap yang dipakai oleh Zeno adalah meneruskan keterangan lawannya sampai selanjut-lanjutnya, sehingga akibatnya bertentangan suatu sama lain. Uraiannya itu rupanya seperti bertele-tele. Tetapi jika diperiksa lebih dalam, ia menunjukkan berbagai kesukaran dalam logika.
              Zeno mngemukakan Paradoks, keterangan yang mengandung pertentangan itu semata-mata untuk menyatakan bahwa kalau yang ada itu dipandang sebagai “ yang banyak”, dasar keterangannya mengandung sifat yang berlawanan.[54]
      2) Aristoteles mengatakan bahwa Zeno menemukan dialektika. Istilah dialektika itu termasuk kata yang mendapat berbagai arti sepanjang sejarah filsafat. Aristoeles memaksudkan dengannya suatu cabang logika yang mempelajari perihal argumentasi yang bertitik tolak dari suatu hipotesis atau pengandaian dan memang itulah cara yang dipakai dalam argumentasi Zeno. Ia mulai dengan mengemukakan suatu hipotesis, yaitu salah satu anggapan yang di anut pelawan-pelawan Parmenides. Lalu ia menunjukkan bahwa dari hipotesis itu harus ditarik kesimpulan yang mustahil. Jadi ternyata hipotesis semula tidak benar, dan itu berarti bahwa kebalikannya harus dianggap benar. Menurut metode ini Zeno membuktikn adanya ruang kosong, Plurlitas, dan gerak sama-sama mustahil.[55]
      3) Ia menyatakan jika keterangan orang yang membantah dinyatakan salahnya, maka pendirian gurunya (Parmenides) benar dengan sendirinya. Dan sikap yang dipakai oleh Zeno adalah meneruskan keterangan lawannya sampai selanjut-lanjutnya. Sehingga akibatnya bertentangan satu sama lain uraiannya itu rupanya seperti bertele-tele, tetapai jika diperiksa lebih dalam, ia menunjukkan berbagai kesukaran dalam logika.[56]


5. ARISTOTELES (384-322 sM)
      1) Menurut Aristoteles dalam Metaphysics menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. Salah satu teori Metafisika Aristoteles yang penting adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa matter dan form itu bersatu. Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya.
            Namun ada substansi yang murni form, tanpa potentiality, jadi tanpa Matter yaitu Tuhan. Ristoteles percaya kepada adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak  (a first cause of motion ).[57]
      2) Aristoteles sependapat dengan gurunya Plato, bahwa tujuan yang terakhir daripada filosofi adalah pengetahuan tentang adanya dan yang umum. Juga dia mempunyai keyakinan bahwa kebenaran yang sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jalan pengertian. Bagaiman memikirkan adanya itu? Menurut Aristoteles adanya itu tidak dapat diketahui dari materi, benda, belaka. Tidak pula dari pikiran semata-mata tentang yang umum, seperti pendapat Plato, adanya itu terletak dalam barang-barang satu-satunya, selama barang itu ditentukan oleh yang umum. [58]
      3) Menurut Aristoteles gerak dalam jagat raya tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan karena setiap hal yang bergerak digerakkan oleh suatu hal lain. Perlulah menerima satu penggerak pertama yang menyebabkan gerak itu tetapi ia sendiri tidak bergerak. Dapat dimengerti bahwa   penggerak pertama itu harus bersifat abadi, sebagaimana juga gerak yang disebabkan olehnya. Penggerak ini sama sekali terlepas dari materi, segalanya yang mempunyai materi, mempunyai juga potensi untuk bergerak. Allah  sebagai penggerak pertama  tidak mempunyai  potensi apapun juga. Allah harus dianggap sebagai aktus murni. [59]
      4) Menurutnya pada tiap gerak diandaikan adanya tujuan. Dunia ini bertujuan. Perkembangan dunia tergantung kepada tujuan itu. tiap hal yang alamiah memiliki potensi  untuk merealisasikan diri sesuai dengan tujuannya segala sesuatu didalam alam raya ini bertujuan. Jagat raya laksana seorang tuan rumah yang baik, yang tidak membuang apa yang berguna. [60]
      5) Aristoteles mengambil kesimpulan bahwa pada tiap-tiap hal bahkan pada semua  hal yang terbatas adanya. Haruslah ada unsur persamaan dan ketidak samaan atau permacam-macaman. Dengan kata lain dalam segala hal yang adanya terbatas haruslah ada yang menjadi sebab yang menyebabkan hal itu bermacam-macam dan sebab kedua yang memberi dasar apa sebabnya maka hal yang bermacam-macam itu dapat ditangkap sebagai satu(dalam macamnya) .[61]
     

6. GORGIAS (427 sM)
      1) Tak ada yang benar baginya, sebab itu ia disebut nihilis. Dasar yang dikemukakannya sebagai alasan meniadakan ada tiga, yang pertama: tak ada sesuatunya. Sebab kalau ada seauatunya, mestilah ia terjadi dan ada pula selama-lamanya. Kedua: jika kiranya ada sesuatunya, ia tak dapat diketahui, sebab jika kiranya ada pengetahuan tentang yang ada itu, adlah ia buah pikiran, dan yang tidak ada sekali-kali tidak dapat masuk dalam pikiran. Ketiga: jika kiranya kita mengetahui sesuatunya, pengetahuan itu tidak dapat kita kabarkan kepada orang lain.[62]
      2) Menurut ia tidak terdapat sesuatu yang ada, jika sekiranga terdapat yang ada itu, kita toh tak dapat tahu akan ada itu, jika sekiranya tahu juga, kita toh tak mungkin memberitahukan.[63]
      3) Karyanya yang terkenal adalah “ tentang alam atau tentang yang tidak ada.” Dari bukunya itu tampaklah bahwa ia adalah seorang nihilis. Baginya tidak ad sesuatupun yang ada. Seandainya ada sesuatu, sesuatu itu tidak dapat dikenal. Seandainya sesuatu itu dapat dikenal, pengetahuan itu tidak dapat sampaikan  kepada orang lain. [64]
      4) Menurut ia tidak terdapat sesuatu yang ada, jika sekiranya terdapat yang ada itu, kita toh tak dapat tahu akan ada itu jika sekiranya tahu juga, kita tak mungkin memberitahukan.[65]
      5) Gorgias menulis suatu buku yang berjudul tentang yang tidak ada pula atau tentang alam. Dalam buku ini ia mempertahankan 3 pendirian, (1) tidak ada sesuatupun, (2) seandainya sesuatu itu ada, maka itu tidak dapat dikenal, (3) seandainya sesuatu dapat dikenal, maka pengetahuan itu tidak bisa disampaikan kepada orang lain.[66]



7. PARMENIDES (540-475 sM)
      1) Ia mengatakan bahwa kebenaran adalah satu, namun berbeda-beda dari orang mengatakannya. Ada kebenaran yang dikatakan dengan rendah hati, dan ada kebenaran yang disampaikan dengan cara terror dan paksa.[67]
      2) Pikiran Parmenides  adalah kebalikan dari pemikiran Herakleitos. Bagi Prmenides  gerak dan perubahan tidak mungkin. Menurut dia realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak atau berubah.[68]
      3) Sebagai pendiriannya disebutnya bahwa ada kebenaran. Kebenaran yang bulat, kebenaran yang sepenuh-penuhnya. Berentangan dengan itu terdapat pendapat manusia, yang tiada memyimpan kebenaran didalamya. Persangkaan itulah yang mengatakan  ada yang banyak, padahal yang banyak itu tidak ada. [69]
      4) Pokok-pokok filsafat Parmenides adalah sebagai berikut: (1) kebenaran itu ada, yaitu kebenaran yang bulat dan penuh, (2) yang ada itu satu, dan tetap (tidak berubah).[70]
      5) yang satu menurut Parmenides, tidak dipandang sebagai persatuan yang seutuh-utuhnya. Yang lahir itu ada dalam persatuan Tuhan dan alam ada yang banyak sebagai jumlah satu-satunya, ajarannya yang ada. Parmenides mangakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah, serta pengetahuan yabg tetap[71]
.

8. HERAKLEITOS (540-480 sM)
      1) Ia mengatakan satu saja anasir yang asal, yang menjadi pokok alam dan segala-galanya. Anasir yang asal itu memenuhi pendapatnya api. Api itu lebih dari pada air dan udara. Dn setiap orang dapat melihat sifatnya sebagai mudah bergerak, dan mudah bertukar rupa.[72]
      2) Sebagai inti pemikiran Herakleitos boleh ditunjukkan keyakinannya, bahwa tiap-tiap benda terdiri dari hal-hal yang saling berlawanan dan bahwa hal-hal yang berlawanan itu tetap mempunyai kesatuan. Dengan lebih singkat  yang satu adalah banyak dan yang banyak adalah satu.[73]
      3) kesimpulan filsafatnya adalah anasir yang satu adalah api. Bahwa api itu lebih dari air dan udara, api sifatnya bergerak dan mudah berganti warna. Api membakar semuanya, jadi api klemudian menjadi abu, segalanya menjadi api dan api berubah menjaid semuanya.[74]
      4) pokok-pokok filsafat Herakleitos adalah sebagai berikut;
            1. unsur yang asal  yang jadi pokok bagi alam dan segalanya adalah api.
            2. segala benda alam ini selalu berubah, tidak ada yang tidak berubah
            3. kemajuan timbulnya dari pertentang dan perjuangan
            4. ala mini tertib, karena adanya undang-undang alam.[75]
      5) Filsafatnya adalah filsafat tentang “menjadi”. Tidak ada satu pun yang betul-betul berada. Sebab semuanya “menjadi” . segala sesuatu yang ada bergerak terus menuerus bergerak secara abadi, segala sesuatu berlalu dan tiada sesuatu yang tetap. Perubahan yang terjadi dengan tiada hentinya, Herakleitos juga yakin akan adanya asas pertama. Asas pertama itu ditemukannya dalsm api, segala sesuatu keluar dalam api, dan akan kembali lagi kea pi, Api disini ada;ah lambing perubahan.[76]


9. ANAXIMANDROS (590-528 sM).
      1) Yang asal itu yang menjadi dasar alam dinamai oleh Anaximandros “Apeiron”. Apeiron itu tidak dapat dirupakan. Tak ada persamaanya, dengan salah satu barang yang kelihatan di dunia ini. Segala yang kelihatan itu yang dapat di tentukan rupanya dengan pancaindera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga.[77]
      2) Anaximandros mengatakan bahwa dasar utama adalah zat yang tak tertentu sufat-sifanya, yang dinamainya Apeiron.[78]
      3) Menurut dia prinsip terakhir itu adalah Apeiron: “yang tak terbatas” (peras=batas). Apeiron itu bersifat ilahi, abadi, tak terubahkan dan meliputi segala-galanya.[79]
      4) Kesimpulan filsafat itu antara lain: filsafat alam , yang asal itu tidak berhingga dan tidak berkeputusan, yang asal sebagai dasar alam menurut Anaximandros disebut “Apeiron”.[80]
      5) Anaximandros terkenal dengan teori “ first Principle” (asal yang pertama). Sal yang perama itu  dinamakan “apeiron”, kesimpulan teori ini adalah;
1. dari apeiron itulah timbulnya alam
2. apeiron itu tiada berakhir dan tiada berhenti-hentinya bekerja, karena ynag dijadikan apeiron itu tidak terhingga banyaknya, sebagai yang kelihatan, sebab itu apeiron harus kekal, tidak berakhir, dan terus bekerja.
3. segala yang kelihatan itu, yakni yang dapat ditangkap oleh pancaindera adalah barang yang berakhir(yang mempunyai batas)sedangkan apeiron tidak.
4. segala yang dapat dilihat dan diraba itu selalu dalam perubahan dan kejadian. Ia jadi dan hidup, kemudian mati dan lenyap, sedangkan apeiron tidak.[81]

10. POTAGORAS (480-411 sM)
      1) Bagi Protagoras manusia itu adalah ukuran bagi segala-galanya, bagi yang  ada karena adanya, bagi yang tidk ada Karen tidaknya . maksudnya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pebdirian manusia  sendiri-sendirinya. Kebenaran umum tidak ada. Pendaptku adalah hasil pandanganku sendiri. Pandangan berubah-ubah menurut yang dipandang, yang benar sekarang besok barangkali tidak lagi.[82]
      2) Menurut ia manusia adalah ukuran untuk segala-galanya, untuk hal-hal yang ada sehigga mereka ada dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada.[83]
      3) Filsafat Protagoras dapat dirumuskan sebagi berikut:
a. bagi protagoras manusia adalah ukuran segalanya bagi yang ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya,
b. bagi Protagoras kebenaran umum tidak ada, maksudnya bahwasemua itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya,padangan berubah-ubah menurut yang benar sekarang dan besok tidak lagi.
c. tentang dewa-dewa yang dihormati orang grik pada waktu itu ia berkata bahwa ia tidak tahu ada atau tidak ada.[84]
      4) Intisari dari filsafat adalah bahwa manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dn yang tidak ada. Manusialah yang menentukan benar dan tidaknya seauatu atau ada dan tidak adanya sesuatu, artinya: apakah sesuatu benar atau tidak hal itu tergantunga kepada orangnya.[85]












1. HASIL KARYA PLATO
Ø      Otentsitas.
Tidak semua karya yang disebut sebagai berasal dari plato boleh di anggap otentik. Kita mempunyai suatu daftar yang berasal dari tahun-tahun sekitar awal tarikh masehi dan agaknya diosusun oleh dua sarjana Alexandria, yaitu Thrasylas dan derkylides. Daftar ini menyebut 36 karya plato(surat-surat dihitung sebagai satu karya). Dan dari 36 karya itu enam dialog berikut itu tidak dapat di anggap otentik, alkibiades II, Hipparkhas, erastai, Theages, Klitophoi, Minos, Otentisitas 6 karya lain lagi dipersoalakan: alkibiades 1 ion, mmenexenos, hippies, malor, Epinomis, surat-surat.
Ø      Kronologi
Dialog-dialog plato atas 3 periode:
1) Apologia, kriton, eutyphion, lakhes, kharmides, lysis, hippies, minor, menon, gorgias, protagoras, uethydemos, kratylos, phaidon, symposion,
2) politea, phaidros, Parmenides, theatetas,
3) sophists, politicos, philebos, timolos, kritias, nomoi.[86]


2. HASIL KARYA SOCRATES.
Ø      Menurut karya Aristoteles tentang Socrates diantaranya tentang komedi yang berjudul burung-burung dan katak-katak, dan dalam komedi yang bernama awan-awan yang untuk pertama kalinya dipentaskan pada thu 423, Socrates adalah pelaku yang utama,
Ø      Karyanya xenophon tentang Socrates diantaranya adalah memorabilia (kenang-kenangan akan socrates),
Ø      Karya plato tentang Socrates adalah nomoi, yang didalamya Socrates bercakap dengan sahabat-sahabatnya dan orang lain.[87]

3. HASIL KARYA THALES
Ø      Thales berhasil mengukur jarak yang tidak diketahui (tingginya Piramida, jauhnya kapal di laut)
Ø      Ia membawa ilmu ukur dari esir ke negeri yunani.[88]



4. HASIL KARYA ZENO
Ø      Argumentasi tentang melawan ruang kosong
Ø      Argumentasi melawan pluralitas
Ø      Argumentasi melawan gerak.[89]

5. HASIL KARYA ARISTOTELES
Ø      Karya-karya yang sifatnya lebih kurang popular yang diterbitkan oleh Aristoteles sendiri. Daftar drogenes laertios menyebut 19 karya yang temasuk gologan ini.
Ø      Karya-karya yang mengumpulkan bahan-bahan yang dapat digunakan dalam risalah-risalah ilmiah.
Ø      Karya-karya yang di karang Aristoteles sehubungan dengan pengajarannya.[90]

6. HASIL KARYA GORGIAS
Ø      Gorgias menulis suatu buku yang berjudul “ tentang yang tidak ada atau tenang alam “.
Dalam buku ini ia mempertahankan 3 pendirian : 1) tidak ada sesuatupun, 2) seandainya sesuatu itu ada, maka itu tidak dapat dikenal, 3) seandainya sesuatu dapat dikenal, maka pengetahuan itu tidak bisa di sampaikan kepada orang lain. [91]

7. HASIL KARYA PARMANIDES.
Ø      Parmenides mengarang filsafatnya dalam bentuk puisi. Syair Parmenides terdiri dari prakata dan dua bagian, yang masing-masing disebut  jalan kebenaran dan jalan pendapatnya. Prakata dan bagian pertama hampir lengkap disimpan yaitu III ayat, dari bagian kedua itu hanya  mempunyai 42 ayat saja. Menurut dugaan H. Diels itulah sepersepuluh dari teks asli.[92]


8. HASIL KARYA HERAKLEITOS
Ø      Herakleitos menulis suatu buku. Buku sendiri sudah hilang, tetapi 130 fragmen di simpan lagi. Semua fragmen ini tidak lain dari pada amsal-amsal pendek yang terdiri dari amsal-amsal serupa itu. tidak mustahil bahwa dengan menggunakan bahasa ini Herakleiyos mau meniru orkel atau sabda dewata yang di berikan di kota Delphoi, tempat berziarah untuk seluruh Helas. [93]
9. HASIL KARYA ANAXIMANDROS
Ø      Ia mengarang sebuah risalah dalam prosa (yang pertama dalam kesusasteraan Yunani) tetapi sekarang tinggal satu fargmen saja.[94]

10. HASIL KARYA PROTAGORAS
Ø      Protagoras mengarang sejumlah buku, hanya beberapa fragmen pendek masih disimpan. Tetapi isi ajarannya dapat ditetapkan, karena gagasan-gagasan protagoras ramai dipersoalkan di kemudian hari. Plato merupakan sumber yang utama khususnya kedua dialognya yang berjudul: theaitetas dan protagoras.
Ø      Diantar karya-karyanya yang lain, adalah:
~ Aletheia (kebenaran)
~ Antilogial ( pendirian yang bertentangan )
~ Tentang keadaan yang asali, tentang asal usul negara.
~Peri theon (perihal dewa-dewa)[95]
























FILSAFAT ABAD MODERN

A. RENAISANCE
     ~#) Ini istilah bahasa perancis. Dalam bahasa latin, re+nasci berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarawan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intlektual, khususnya ynagterjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16.
            Dari berbagai perdebatan tentang Renaisance yang dapat diambil adalah bahwa Renaisance adalah periode perkembangan peradaban yang tereak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampai muncul abad modern. Perkembangan itu terutama sekali dalam bidang seni lukis, dan sastra. Akan tetapi, di antara perkembangan itu terjadi juga pekembangan dalm bidang filsafat.
            Pada filsafatnya ciri-ciri renaissance adalah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani, individualisme, humanisme, lepas darfi pengaru agama, dan lain-lain. Seklaipun demikian, para ahli lebih senang menyebut Descartes sebagai tokoh rasionalisme. Penggelaran yang tidak salah tetapi bukanlah hanya Descartes yang dapat dianggap sebagai tokoh rasionalisme. Rasionalis pertama dan serius pada zaman modern memang Descartes.[96]


 B. RASIONALISME
Ø      Rasioanalisme adalah faham filsafat yang mengatakan bahwa akal adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengalami objek empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berfikir itu adalah kaidah-kaidh logis.
Rasinalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat.
Adapun   tokoh-tokoh rasionalisme diantarnya adalah: Descartes, Baruch Spinoza, leibniz, Hegel.[97]


C. IDEALISME
Ø      Didalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat difahami  dalam kebergantungannnya pada jiwa dan spirit.
Reese (1980:243) meringkaskan berbagaitipe filsafat idealisme sebagai berikut:
(1) Schelling menamakan idealisme Fichte adalah idealisme subjektif karena bagi Fichte dunia adalah suatu tempat memahami subjek.
(2) Hegel dapat menerima adanya penggolongan menjadi odealisme subjektif dan idealisme objektif.
(3) Kant menyebut Filsafatnya idealisme transedenal atau idealisme kritis.[98]



D. EMPIRISME
Ø      Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dn mengecilkan peranan akal.
Ada 2 ciri pokok empirisme, yaitu: mengenai teori tentang makna, dan teori tentang pengetahuan.
Teori tentang makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakn sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atu konsep. Teori yang kedua yaitu teori pengetahuan, menurut orang rasionalis ada beberapa kebenara umum seperti, “ setiap kejadian tentu mempunyai sebab” dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika.. [99]

Ø      Empiri memegang peranan amat penting bagi pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendapat itu disebut empirisme.
Menurut Francis Bacon, cara mencapai pengetahuan itupun segera nampak dengan jelas. Haruslah pengetahuan itu dicapai dengan menggunakan induksi.
Sedangkan menurut Thomas hobbes (penganut empirisme) bahwa prsentuhan dengan indera (empiri) itulh yang menjadi pangkal dan sumber pengetahuan.[100]

            



            

E. PRAGMATISME
Ø      Kata pragmtisme di ambil dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan.
William James mengatakan bahwa secara ringkas Pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui. Csebenarnya istilah pragmatisme lebih banyak berarti sebagai metode untuk memperjelas. Suatu konsep ketimbang sebagai suatu doktrin kefilsafatan.
Yang pertama yang harus difahami dalam filsafat moral James adalah bahwa kemauan itu lebih dari sekedar karkter intelektual. Sekalipunkita harus mempunyai pendangan moral tertentu, hal itu tidak dapat di peroleh hanya dengan menggunakan akal murni atau semata-mata dengan analisis teoritis.[101]

Ø      Menurut William James (1842-1910) pengertian atau putusan itu benar jika pada prakteknya dapat digunakan. Putusan yang tidak dapat digunakan itu keliru.
Menurut John Dewey (1859-1952) tak adalah sesuatu yang tetap. Manusia itu bergerak dalam kesungguhan yang selalu berubah. Jika ia dalam pada itu menjumpai kesulitan, maka mulaiklah ia berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. maka dari iti berfikir tidaklah lain dari pada alat untuk bertindak.[102]

F. EKSISTENSIALISME.
Ø      Kata dasar eksistensi adalah axist yang berasal dari kata latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut desain. Da berarti disana, sein berarti baerada.
Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagaimana tema sentral. Adapun yang dimaksud dengan eksistensialisme, rumusannya lebih sulit dari pada eksistensi.
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia, sapi dan pohon  juga. Akan tetapi cara beradanya tidak sama. [103]

Ø      Sifat-aifat umum bagi penganut-penganut yang dinamai orang eksistensialisme itu adalah;
1) orang yang menyuguhkan dirinya dalam kesungguhan yang tertentu
2) orang harus berhubunga dengan dunia
3) orang merupakn kesatuan sebelum ada perpisahan antara jiwa dan badannya
4) orang berhubungan dengan ada.
Tujuan dari pikiran eksistensialisme adalah mengerti akan realitas seluruhnya, untuk menyadari apakah sebenarnya mengerti itu, maka orang harus pengetahuan tentang manusia, yang tahu itu.
Adapun tokoh-tokohnya adalah; Soren Kierkegaard, Martin Heidegger, Karl Jaspers, Gabriel Marcel, Pall Sartre. [104]

                                   
  





























DAFTAR PUSTAKA

Inu Kencana Syafi’i. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: PT.Rafika Aditama.  
Jujun S.Suriasumantri. 2003. Filsafat Ilmu. Jakarta:Penerbit Sinar Harapan.
Hasbullah Bakri. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta:Widjaya.
Hasyimsah Nasution. 2005. Filsafat Islam. Jakarta:Gaya Media Tama.  
Ahmad  Tafsir. 1993. Filsafat Umum. Bandung:PT. Rosdakarya.
Shadoli Ahmad. 2004. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia.
Oemar Husein. 1972. Filsafat Islam. Jakarta:Bulan Bintang. 
Baharuddin. 1994. Pengantar ke Alam Pemikiran Filsafat. Lampung:Penerbit Fak. Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung. 
W. Poespoparadja. 1989. Logika Ilmu Menalar. The ronal Press Company.
A. Dardiri. 1986. Humaniora Filsafat dan Logika. Jakarta:Rajawali
Alex Laner Ofm. 1990. Logika (Selayang Pandang ). Yogyakarta:Konsius (anggota IKAPI).
Sidi Ghozalba. 1992. Sistematika Filsafat. Jakarta:Bulan Bintang. Hlm 67
Endang Saefudin Anshori. 1987. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya:PT. Bina Mulya.
Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:PT. Rineka Cipta. Cet. IX, 1994.
 Fuad Hasan. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta:Pustaka Jaya. 2001.
 A. Shadoli dan Mudzakir. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia. Cet.II. 2004.
Moh. Hatta. Alam Pikiran Yunani. Yogyakrta:Penerbit UI-Press dan Tintamas. Cet 3.1986.
K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta:Penerbit KANISUS (Anggota IKAPI). Cet 16. 2000.
Bernand Delfgaauw. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. Cet. I. 1992..
Harun Hadiwijono. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta:Penerbit KANISIUS. Cet 14. 1998.
M.Baharuddin. Penganatar Ke Alam Pemikiran Filsafat. B. Lampung :Fak Ushuluddin IAIN Raden Intan. 1995.
H.M. Ghozi Badri dan Damanhurri Fattah. Filsafat Umum. B. Lampung. Gunung Pesagi. 1993.






[1]. Inu Kencana Syafi’i. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: PT.Rafika Aditama.   Hlm 1
[2] Jujun S.Suriasumantri. 2003. Filsafat Ilmu. Jakarta:Penerbit Sinar Harapan. Hlm.20
[3] Hasbullah Bakri. 1986. Sistematika Filsafat. Jakarta:Widjaya. Hlm. 11-12.
[4] Hasyimsah Nasution. 2005. Filsafat Islam. Jakarta:Gaya Media Tama. Hlm. 1-2.
[5]Jujun S.Suriasumantri.of.cit.Hlm. 19
[6] Hasyimsah Nasution. ibid. Hlm. 2
[7] Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. Bandung:PT. Rosda Karya. Hlm 12
[8] Ahmad Tafsir. ibid. Hlm 12.
[9] Ahmad  Tafsir. ibid. Hlm. 16
[10] Shadoli Ahmad. 2004. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia. Hlm.26
[11] Shadoli Ahmad. ibid. Hlm.26
[12]  Hasbullah Bakri. Loc.cit. Hlm 12
[13] Hasbullah Bakri. ibid. Hlm 12
[14] Ahmad Tafsir. Loc.cit Hlm. 17-18

[15] Jujun S. Suriasumantri. 2003. Filsafat Ilmu. Jakarta:Penerbit Sinar Harapan.Hlm.25
[16] Oemar Husein. 1972. Filsafat Islam. Jakarta:Bulan Bintang. Hlm 48
[17]  Inu Kencana Syfi’i. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung:PT. Refika Aditama. Hlm.3-4
[18] Jujun S. Suriasumantri. Loc.cit. Hlm.20-22
[19] Baharuddin. 1994. Pengantar ke Alam Pemikiran Filsafat. Lampung:Penerbit Fak. Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Hlm.4.

[20] Jujun S. Suriasumantri. Of.cit. Hlm.3
[21] W. Poespoparadja. 1989. Logika Ilmu Menalar. The ronal Press Company. Hlm.14
[22] A. Dardiri. 1986. Humaniora Filsafat dan Logika. Jakarta:Rajawali. Hlm 72-75.
[23] . Hasbullah Bakri. 1986. Sistematik Filsafat. Jakarta:Widjaya. Hlm.19-21
[24] Jujun S. Suriasumantri. Loc.cit. Hlm.46-48
[25] Alex Laner Ofm. 1990. Logika (Selayang Pandang ). Yogyakarta:Konsius (anggot IKAPI). Hlm. 7.

[26] Jujun S.Suriasumantri. of.cit. Hlm.50
[27] Baharuddin. 1994. Pengantar ke Alam Pemikiran Filsafat. Lampung:Penerbit Fak. Ushuluddin IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Hlm.10
[28] Jujun S. Suriasumantri.of.cit Hlm.55
[29] . Baharuddin. Of.cit. Hlm.12


[30]. Baharuddin. ibid Hlm.12
[31] Sadoli Ahmad. 2004. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia. Hlm 11
[32] Endang Saefudin Anshori. 1987. Ilmu Filsafat dan Agama. Surabaya:PT. Bina Mulya. Hlm 122
[33] . Sidi Ghozalba. 1992. Sistematika Filsafat. Jakarta:Bulan Bintang. Hlm 67.
[34] Endang Saefudin Anshori. Of.cit Hlm.171.
[35] Endang Saefudin Anshori. ibid Hlm.171
[36] Endang Saefudin Anshori. ibid Hlm.171
[37] Endang Saefudin Anshori. Ibid. hlm.172
[38] Endang Saefudin Anshori. Ibid. hlm.172
[39]  Sidi Ghozalba. 1992. Sistematika Filsafat. Jakarta:Bulan Bintang. Hlm 39
[40] Sidi Ghozalba. ibid Hlm.59

[41] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:PT. Rineka Cipta. Cet. IX, 1994. hlm.34
[42] Fuad Hasan. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta:Pustaka Jaya. 2001. hlm. 31
[43] A. Shadoli dan Mudzakir. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia. Cet.II. 2004. hlm70
[44]  Moh. Hatta. Alam Pikiran Yunani. Yogyakrta:Penerbit UI-Press dan Tintamas. Cet 3.1986. hlm 97
[45] Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta:Penerbit KANISUS (Anggota IKAPI). Cet 16. 2000. hlm 129.
[46] A. Syadoli dan Mudzakir. Loc.cit.Hlm.67-68
[47] . K. Bertens. Of.cit hlm.104
[48] Poedjawijatna. Loc.cit hlm 30
[49] Fuad Hasan. Loc.cit. hlm 21
[50] Bernand Delfgaauw. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. Cet. I. 1992. hlm 15.
[51] A. Syadoli dan Mudzakir. Loc.cit hlm 40
[52] K. Bertens. Loc.cit. hlm.35-36
[53] Moh Hatta. Alam Fikiran Yunani. Jakarta:Penerbit UI-Press dan Tintamas. 1986. Hlm. 7-8
[54] Moh Hatta. ibid. Hlm. 24-26.
[55] K. Bertens. Of.cit. Hlm.62
[56] A. Syadoli dan Mudzakir.loc.cit. hlm. 62-64               
[57] A. Syadoli dan Mudzakir. Ibid. hlm.73-74
[58] Moh Hatta. Loc.cit. hlm 119
[59]  K. Bertens. Loc.cit. hlm 196 
[60] Harun Hadiwijono. Sari Sejarah Filsafat Barat 1.Yogyakarta:Penerbit KANISIUS. Cet 14. 1998. hlm. 51

[61] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:Penerbit Rineka  Cipta. Jakarta.cet.9.1994.hlm 39.
[62] Moh. Hatta. Loc.cit. hlm 67.
[63] Poedajawijatna. Of.cit. hlm 29
[64] Harun Hadiwijono. Loc.cit hlm. 34
[65] M.Baharuddin. Penganatar Ke Alam Pemikiran Filsafat. B. Lampung :Fak Ushuluddin IAIN Raden Intan. 1995. hlm 39
[66] K. Bertens. Loc.cit. hlm. 90.

[67] A. Syadoli dan Mudzakir. Filsafat Umum. Bandung:Pustaka Setia. Cet.II. 2004. hlm. 54
[68] K. Bertens. Of.cit .hlm.58
[69] Moh. Hatta. Loc.cit. hlm 21-22
[70] H.M.Ghozi Badri dan Damanhurri Fattah. Filsafat Umum. B.Lampung. Gunung Pesagi.1993.hlm 25
[71] M. Baharuddin. Loc.cit. hlm 29
[72] Moh Hatta. Loc.cit. hlm 15
[73] K. Bertens. Loc.cit hlm 54
[74] M. Baharuddin. Of.cit. hlm 27
[75] Ghozi Badri dan Damanhuri Fattah. Loc.cit hlm 29
[76] Harun Hadiwijono. Sari Filsafat Barat 1. Yogyakarta:KANSIUS. 1980. hlm.21
[77] Moh. Hatta. Loc.cit hlm. 9
[78] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:Rineka Cipta. Cet.1994. hlm 23
[79] K. Bertens. Loc.cit. hlm. 37  
[80] M. Baharuddin. Loc.cit. hlm 24
[81] HM. Ghozi Badri dan Damanhuri Fattah. Loc.cit hlm 18
[82] Moh. Hatta. Loc.cit. hlm 64
[83] K. Bertens. Loc.cit. hlm.86
[84] M. Baharuddin. Loc.cit hlm.39
[85] Harun Hadiwijono. Loc.cit. hlm. 33.
[86] K. Bertens. Loc.cit. hlm.120-123
[87] K. Bertens. ibid. hlm.120-123
[88] K. Bertens. ibid. hlm.34-35
[89]K. Bertens. ibid hlm.62-63
[90] K. Bertens. Ibid. hlm157-159
[91]K. Bertens. ibid. hlm90
[92] K. Bertens. ibid. hlm.58
[93] K. Bertens. ibid. hlm.53
[94]K. Bertens. ibid. hlm.34-35
[95]K. Bertens. ibid hlm.34-35


[96]A. Tafsir. Filsafat Umum. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya. Cet.3. 1993. hlm 109-111
[97] A. Tafsir. ibid hlm 111-112
[98] A. Tafsir. ibid. hlm 127-129
[99] A. Tafsir. ibid. hlm 136-137}
[100] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat. Jakarta:PT. Rineka Cipta. 1983. hlm 103-105}

[101]A. Tafsir. Of.cit. hlm 166-190
[102] Poedjawijatna. Of.cit. hlm 133        
[103] A. Tafsir. Of.cit. hlm 190-196
[104] Poedjawijatna. Of.cit. hlm 142-148            

0 komentar:

Poskan Komentar

ShareThis

banner a href="http://www.justbeenpaid.com/?r=XHhV4Ln94t"> banner