MAU DUIT?!!!

Jumat, 23 Maret 2012

pilsafat umum

Tugas Mandiri



FILSAFAT UMUM

D
I
S
U
S
U
N

 Oleh:

Nama                          : Muhammad Fidaus
NPM                           : 08 21 01 0001
e-Mail                         : oejook_mhpl@yahoo.com  
Smt/Jur                       : I/AS

 






FAKULTAS SYARI'AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG

 
2008
KATA PENGANTAR



Syukur  Ahamdulillah  kami panjatkan kepada  ilahi rabbi  dan rahmat-Nya  sehingga kami  dapat menyelesikan  makalah ini Makalah ini  merupakan tugas  kelompok yang  diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah  “Filsafat Umum”
Dengan terselainya  penyusunan makalah ini tidak lupa  kamu ucapkan terima kasih  kepada semua pihak  dengan kerendahan hatinya  telah membantu  terselesainya  makalah ini.
Kami sangat  menyadari  banyaknya kekurangan dan kesalahan serta keterbatasan  kemampuan kami dalam penyusunan  makalah ini. Oleh karena itu kami sangat  mengharapkan  kritikan  saran yang sifatnya membangun demi perbaikan dimasa  mendatang.




Bandar Lampung    Januari 2008 


Penulis


DAFTAR ISI


Definisi filsafat                                                                                                     
Perbandingan filsafat dengan agama , ilmu dan kebudayaan............................
Filsafat Yunani Kuno............................................................................................
Filsfat Abad Pertengahan ...................................................................................
Filsafat Abad Modern .........................................................................................

DEFINISI FILSAFAT

Pengertian Filsafat
            Filsafat ialah hasil akal seseorang manusia yang mencari dan memikirkan sesuatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. [1] Maksudnya            : filsafat ialah suatu keputusan akhir dari pemikiran seseorang fisuf yang paling  benar menurut filsuf tersebut.
            Menurut Plato filsafat ialah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenatan yang asli). Maksudnya : filsafat ialah suatu keinginan untuk mencari suatu pengetahuan yang ada di dalam alam semesta ini dengan mengetahui kebenaran yang asli atau pasti.
            Menurut aristotels filsafat ialah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda). Maksudnya : filsafat ialah suatu ilmu pengetahuan yang berdasarkan kebenaran dalam penyelidiikan sebab adanya sesuatu.
            Menurut Tullius Cicero filsafat ialah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya. [2] Maksudanya : filsafat ialah suatu ilmu pengetahuan yang  paling tinggi dan sempurna.
            Filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak. [3] Maksudnya : filsafat ialah keinginan seseorang untuk menjadi orang tidak tergeda-gesa dalam menarik keputusan dan selalu berfikir positif.
            Menurut Hebert Spencer memberi definisi filsafat  sebagai pengetahuan yang seragam lengkap. [4] Maksudnya : filsafat mencoba untuk mempersatukan beberapa ilmu pengetahuan agar menjadi suatu sistem yang seragam.

Timbulnya Filsafat
Timbulnya  filsafat karena adanya :
Tahkhayul dan  dongeng : bagi orang yang tidak percaya, ia kritis ingin mengetaui kebenaran takkhayul dan dongeng tersebut.
Maksudnya : orang yang tidak percaya dengan takhayul dan dongeng, maka orang tersebut akan berfikir untuk mencari kebenarannya. 
            Keindahan  alam besar :  karena alam dapat menimbulkan keinginan pada orang grik untuk mengetahui rahasia itu. Maksudnya : alam membuat manusia itu ingin berfikir  mengapa alam itu ada.
            Ketakjuban : Menurut  Beerling ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan  alam semesta ini  lantas menimbulkan keinginan mengetahuinya. [5]
Maksudanya : rasa takjub itu ialah awal dari rasa ingin tahun terhadap keindahan yang ditakjubkan.
            Fikiran : tanpa berfikir filsafat tidak lahir  tanpa berfikir ilmupu tak mungkin terbentuk. [6] Maksudnya : yang namanya berfilsafat pasti menggunakan fikiran, berarti orang yang tidak berfikir dia tidak berfilsafat.
            Rasa Heran dan ingin tahu : filsafat dimulai dengan rasa heran, dan ingin tahu.[7] Maksudnya : dengan adanya rasa heran, dan ingin tahu maka akan timbul berbagai macam pertanyaan.
Menurut Saya : saya lebih menuju pad apendapat Drs. Sidi Gazalba, Karena apa  yang dikatakan beliau hamper sependapat  sama saya yaitu adanya filsafat pasti ada fikiran, karena dengan fikiran kita berfilsafat.

Cara mempelajari Filsafat
Cara mempelajari  filsafat melalui tiga metode :
1.      Metode sistematis : pelajaran menghadapi karya filsafat
Maksudnya : pelajar mempelajari  filsafat dengan cara membaca hasil karya filsuf-silsuf yang ada di dunia.
2.      Metode Historis : Pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya.
Maksudnya : pelajar  mempelajari filsafat dengan cara  menghadapi dan mempelajari  sejarah filsafatnya dulu. 
3.      Metode Kritis : Mempelajari Filsafat tingkat intensif, pelajar haruslah sedikit banyaknya telah memiliki  pengetahuan. [8]
Maksudnya :  pelajar mempelajari  filsafat haru ada modal pengetahuan dulu tentang filsafat.

Untuk mempelajari ilmu filsafat itu dari dua macam cara yaitu : mempelajari sejarah perkembangannya sejak dulu kala hingga sekarang dan mempelajari isi yakni mempelajari lapangan pembahasannya  yang diatur dalam bidang tertentu. [9]
maksudnya : mempelajari filsafat dengan tahu dulu sejarahnya dari  dulu sampai sekarang dan membahasa filsafat dengan pembahasan dalam bidang-bidang tertentu.
            Pada garis besarnya ada 2 metode pokok dalam mempelajari filsafat yunani : pendekatan terhadap wahyu dan pendekatan sejarah. [10]
Maksudnya : mempelajari  filsafat  dengan mengetahui wahyu-wahyu yang menyangkut tentang filsafat serta tahu sejarahnya.
            Menurut saya : saya lebih sependpaat dengan Bapak Drs. H. Hasbullah Bakry, SH. Karena  filsafat itu selalu berkembang dari sulu sampai sekarang, jadi kita harus menguasai seluruh perkembangannya, selain itu filsafat juga ada bidang-bidangnya dan kita juga harus mempelajari bagian-bagian dari pembahasan filsafat.

Objek Filsafat
Objek filsafat antara lain adalah :
-         Alam semesta beserta isinya dan agama. [11]
Maksudnya : alam semesta dan agama merupakan sasaran atau sarana untuk kita berfikir.
-         Segala Sesuatu yang tidak jelas, yang belum ada keterangan atau jawabanya. [12]
Maksudnya : semua  yang tidak jelas itu dapat membuat kita itu selalu berfikir dan bertanya tentang kejelasannya.
-         Menurut Prof. Dr. Abdurrazik di Mesir mengatakan bahwa fiqih Islam termasuk juga menjadi objek filsafat. [13]

Menurut saya  : saya lebih setuju  pendapat  Drs.  Sidi Gazalba  bahwa objek  filsafat  adalah sesuatu  yang tidak jelas,  karena filsafat  itu adalah berfikir  dan sesuatu  yang tidak jelas itu dapat membuat  orang berfikir.


Karateristik  Filsafat
-         Karakteristik  filsafat  dibagi menjadi tiga  cabang yaitu :
1.      Teori pengetahuan  membicarakan cara memperoleh  pengetahuan.
Maksudnya  : yang  namanya  filsafat  pasti kita  membicarakan kebenaran pengetahuan  yang ingin dicari
2.      Teori hakikat  membicarakan pengetahuan  itu sendiri.
Maksudnya  : yang namanya  filsafat  itu pasti  membicarakan  kebenaran  pengetahuan  yang ingin dicari 
3.      Teori nilai  membicarakan  guna pengetahuan itu sendiri.[14]
Maksudnya  : filsafat  pasti membuat  kita berfikir  untuk apa kita  mencari  pengetahuan  

-         Pemikiran  filsafat  tidak positif, tapi spekulatif.[15]
Maksudnya  : filsafat pasti  membuat kita berfikir  untuk apa  kita mencari  pengetahuan
-         Ilmu filsafat  menyelidiki  seluruh  kenyataan  yang dibahas  oleh ilmu-ilmu  hak dan menyeleidiki  bagaimana  hubungan kenyataan  itu satu sama lain.[16]
Maksudnya  : filsafat  menyelidiki  keseluruhan  kenyataan  dari ilmu  vak, dan mengaitnya  satu sama lain.
 
Menurutnya :  Filsafat  menyeldiki  keseluruhan  kenyataan  dari ilmu vak, dan   mengkaitkannya  satu sama lain.

Manfaat Filsafat
-         Menurut  Haroid  H. Titus
Tujuan filsafat  ialah memahami  alam semesta, maknanya  dan nilainya.[17]
Maksudnya  : filsafat  membuat kita tahu sebab adanya  alam semesta  beserta isinya.
-         Manfaat  Filsafat  ada 4 macam :[18]
ü    Agar  terlatih  berfikir serius
ü    Agar mampu  memahami filsafat
ü    Agar  mengkin menjadi filosof
ü    Agar menjadi  warga Negara yang baik
-         Menurut  S. Takdir Alisyahbana
Filsafat  memberikan  ketenangan pikiran-pikiran dan kemantapan  hati sekalipuin  menghadapi maut.[19]

Menurut saya  : Saya  lebih menjurus  pada pendapat Prof. Dr. Ahmad  tafsir  karena menurut saya  filsafat  dapat membuat kita  berfikir serius, memahami apa gunannya berfikir filsafat, bias menjadi  seorang pemikir, dan menjadi warga  Negara  yang baik.

Dasar-dasar  Pengetahuan
Logika
-         Logika  ialah pengkajian  untuk berfikir  secara sahih[20]
Maksudnya : suatu  cara untuk berfikir secara   benar
-         Logika  ialah  ilmu pengetahuan  yang mempelajari  aturan-aturan dan cara-cara  berfikir  secara benar sehingga dapat  menyampaikan  manusia  kepada kebenaran.
Maksudnya : suatu pengetahuan  tentang cara  atau aturan  berfikir manusia yang memang  benar dalam akal.
-         Logika ialah ilmu pengetahuan  dan kecakapan  untuk berfikir  lurus (tepat).[21]
Maksudnya  : logika  ialah  sebuah  cara berfikir  dengan tutur bahasa atau rangkaian  kata pada lisan.
-         Logika  ialah ilmu  yang mempelajari  pikiran yang dinyatakan  dalam bahasa[22]  Maksudnya : logika  ialah sebuah  cara berfikir  dengan tutur  bahasa  atau  rangkaian   kata pada lisan
Menurut saya  : Saya  lebih setuju  pendapat  Alex  Lonus  Ofm. Karna  Pengertian   logika  adalah pengetahuan  dengan kecakapan untuk berfikir  lurus (tepat)  yang namanya  logika pasti berfikir tepat.

Sumber Pengetahuan
-         Pada dasarnya  pendapat  2 cara pokok bagi manusia  untuk mendapatkan  pengetahuan  yang benar  yaitu mendasarkan  diri kepada  rasio dan mendasarkan diri kepada  pengalaman.[23]
Maksdunya  : kita  mendapatkan  pengetahuan rasio  dan pengalaman  yang telah kita alami  sebagai pelajaran
-         Pengetahuan  diperoleh  melalui  salah satu   dari empat  jalan.
1.      Pengetahuan  itu bahwa  lahir bersama  kita
Maksudnya  : sejak  lahir kita  telah membawa  pengetahuan  seiring tumbuhnya kita. 
2.      Kita  peroleh  dari budi pekerti.
Maksudnya  : melalui  tingkah laku  dan pergaulan, kita  bisa memperoleh  pengetahuan. 
3.      Berasal  dari indera-indera  khusus  yaitu  : pengelihatan, pendengaran, penciuaman dan rabaan.
Maksudnya  : melalui  panca indera  kita memperoleh  pengetahuan. 
4.      Berasal dari penghayatan  langsung atau ilham.[24]
Maksudnya  : pengetahuan  di dapat  dari pilihan  langsung secara  tiba-tiba 
-         Pengetahuan  berasal dari 3 kategori :
1.    Pengetahuan indera,maksudnya dengan kalimat indera kita memperoleh pengetahuan
2.    Pengetahuan ilmu,maksudnya dengan semua ilmu di dunia ini memberikan pengetahuan
3.    Pengetahuan filsafat,maksudnya dengan kita mengolah pikiran,kita bias memperoleh pengetahuan[25]

Menurut saya : saya lebih  condong kepada pendapat  D. Juhaya  S. Praja  dimana  pengetahyan didapat  dari indera, ilmu dan filsafat dan menurut saya  itu benar  karena kita  belajar  pasti  menggunakan idera kita, kita  dapatkan  informasi  dari ilmu,  dan kita belajar  menggunakan fikiran.

Kriteria Kebenaran
-         Kriteria  kebenaran berdasarkan pada :
Teori koherensi : Maksudnya dianggap  benar jika  pernyataan itu bersifat  koheren atau konsisten  dengan pernyataan-pernyataan  sebelum  yang dianggap  benar.
Teori  Korespondensi : maksudnya  pernyataan  benar jika  materi  pengetahuan yang kandung  pernyataan tersebut  berkorespondensi.
Teori  pragmatis : maksudnya  kebenaran suatu pernyataan  diukur  dengan criteria  apakah  pernyataan  tersebut  bersifat  fungsional dalam kehidupan praktis.[26]
-         Masalah  kebenaran ialah masalah  hubungan antara  ide-ide  kita dengan  dunia realita.[27] Maksudnya  : kebenaran  ialah semua  yang bedasarkan  realitas  atau kenyataan.
-         Kebenaran ialah suatu  yang sesuai dengan fakta atau sesuatu  yang selaras  dengan  situasi  actual  dan persesuaian  antara pernyataan  mengenai  fakta dengan fatualnya, atau antara putusan  dengan situasi  seputra  yang  diberinya  interpretasi.[28]
Maksudnya  : semua  pernyataan  itu benar  apabila   pernyataan  tersebut  sesuai dengan fakta.

Menurut saya  : Saya lebih memilih pendapat  Drs. Sidi  Gazalba  yang mengatakan  bahwa  kebenaran ialah  ide-ide  kita sesuai dengan dunia realitas karena semua  yang berdasarkan  realitas  pasti  benar.
           
Penalaran
-         Penalaran  ialah suatu  proses berfikir  dalam menari sesuatu  kesimpulan yang berupa  pengetahuan.[29]
Maksudnya : suatu langkah untuk memutuskan keismpulan dengan berdasarkan pengetahuan.
-         Penalaran adalah bicara dengan dirinya sendiri di dalam mempertimbangkannya, merenungkannya, menganalisis, membuktikan sesuatu / menunjukkan alas an-alasan menarik keismpulan meneliti suatu jalan pikiran mencari bagaimana berbagai hal berhubungan satu sama lain, mengapa atua untuk apa sesuatu terjadi, membahaskan suara realitas. [30]
Maksudnya : mengembangkan fikiran untuk mengetahui mengapa atau untuk apa sesuatu terjadi.
-         Penalaran di bagi 2 yaitu: [31]
·      Penalaran induksi : metode penalaran yang berdasarkan  sejumlah hal yang khusus untuk tiba pada suatu kesimpulan yang bersifat boleh jadi. Boleh jadi disini maksudnya mungkin slaah tapi tidka mutlak menjamin kebenarannya. Sifatnya khusus individual menuju hal-hal yang bersifat umm (universal). Penalaran induksi  dibagi menjadi 2 yaitu :
o       Induksi sempurna : peneliti (observer) menyelidiki seluruh objek  atua individu atau dalam kelasnya tanpa melesat sedikitpun.
o       Induksi tidak sempurna : peneliti hanya menyelidiki objek sebagian saja tidak membutuhkan seluruh objek.

Menurut saya : saya lebih setuju pendapat dari Drs. HA. Dardini karena setiap manusia memiliki pikiran menalar yang umum  ke khusus dan khusus ke umum.


PERBANDINGAN FILSAFAT DENGAN AGAMA, ILMU DAN BUDAYA

Filsafat dan Agama
-         Filsafat ialah hasil akal seseorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran sedalam dalamnya. [32]
-         Agama, kalau kita kaji secara etimologinya, kata gama membawa kita kepada bahasa sansekarta. Akar agama ialah kata a – gam - a  ialah gam yang berarti pergi atau berjalan. [33]
-         Agama, kerap kali kita membaca dan mendengar orang mencoba mencari dan menerangkan asrti agama dari segi etimologi, berasal dari dua kata a = tiada,  gama = kacau, jadi orang beragama orangnya tidak kacau. [34]
Jadi saya setuju pendapat ketiganya akan hubungan antara filsafat dan agama dlaah sama-sama menuju jalan kebenaran, karena orang yang berfilsafat dan beragama sama-sama menuju jalan kebenaran”.

Filsafat dan Ilmu
-         Filsafat ialah ilmu itimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Karena masalah-masalah termasuk di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. [35]
-         Ilmu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam satu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian. Bagian-bagian dan hukum-hukum hal yang diselidikinya. [36]
-         Persamaan Filsafta dan ilmu
Bertujuan (sekurang – kurangnya berurusan dengan hal yang sama) yaitu kebenaran.
-         Perbedaan Filsafat dan Ilmu
Ilmu mencari kebenaran dengan car penyelidikan (riset, research) pengalaman dan percobaan dan filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menulangkan (menggambarkan atau mengenalkan). [37]
-         Baik Filsfata dan Ilmu sama-sama mencari pengetauan, dan pengetahuan yang dicari itulah pengetahuan yang benar. Dalam segi ini maksud keduanya sama, tetapi dalam persamaan  ada juga perbedaan, pengetahuan ilmu melukiskan sedangkan pengetahuan filsafat menafsirkan. [38]

Menurut pendapat saya : saya lebih setuju pendapat  H. Endang Sarfuddin Anshori, MA. Di hal 172 karena di dalam pendapat itu ada persamaannya dan perbedaanya.
Filsafat dan Kebudayaan

-         Apabila kita bandingkan definisi kebudayana dan filsafat keduanya bertemu secara sistematis. [39]

Ya menurut saya : saya setuju dengan pendapat Sidi Gazalba karena filsafat kebudayaan sama bertumpu pada hal berfikir

FILSAFAT YUNANI KUNO


1.      Thales (625-545 SM)
Thales  berpendapat bahwa dasar pertama  intisari alam  ialah air.[40]
Menurut Thales, asas pertama yang menjadi asal mula segala sesuatu adalah air, barangkali  penemuannya di dadasarkan atas kenyataan, bawa air dapat diamati dalam bentuknya yang bermacam-macam air tampak sebagai benda halus (uap), sebagai benda cair (air), dan sebagai benda yang keras (es) air terdapat pada bahan makanan. Tetapi juga pada batu  padas yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. [41]
Kesimpulan filsafat Thales adalah : bahwa dasar pertama atau intisari dalam ialah air. Filsafat jiwa; thales  berpendapat bahwa, tak ada yang memisahkan antara hidup dan mati. Semuanya satu. Thales  percaya bahwa segala sesuatu benda itu berjiwa. Benda bisa beubah rupanya, bisa timbul dan bisa hilang. Smeua itu atas kodratnya sendiri. Kalai kita lihat filsafat thales tersebut masih  animisme. Animisme ialah suat kepercayaan, bahwa semua benda berjiwa. [42]
Menurut Thales prinsip alam semesta ini adalah air, semuanya berasal dari air dan semuanya kembali lagi menjadi air, mungkin beku, uap. Menurut Thales bumi berada di  atas  dan pendapat Tales bahwa jagat raya berjiwa, sering kali disbeut " hylezoisme" (Teori yang mengenai materi yang hidup). [43]
Menurut Thales, yang azali adalah Allah, sebab dia  tidak dijadikan, asal dari segala benda adala air, Thales berpendapat, sebagai yang diterangkan oleh aristoteles bahwa asal dari semua benda (almaujudat untuk maddiyah) ialah air, semua dari air dan akan menjadi air. Jadi air adalah asal  dari segala benda yang ada dan yang jadi, dan juga akhir dari segala yang ada jadi itu. Semua benda itu berjiwa, biarpun benda mati, pendapat ini didasarkan kepada pengalaman bahwa kabraba (ambar kuning) dan besi yang di godok sampai panas dapat menarik barang yang dekat kepadanya, itu disebabkan karena di dalamnya ada " Jiwa". [44]
Menurut keterangan Aristotelse, kesimpulan ajaran thales ialah " Semuanya itu air". Air  yang cair itu adalah pangkal, pokok dan dasar (principe) segala-galanya. Semua barang terjadi dari pada air dan semuanya kembali  kepada air pula. Dalam pandnagan Thales tak ada jurnag yang memisahkan hidup dan mati, smeuanya satu dan sebagi orang menurut masnaya, ia percaya bahwa segala benda itu berjiwa. [45]

2.      Anazimandros (590 – 528 SM)
Yang  asal itu yang menjadi dasar alam dinamai oleh Anaximandros " Apeiron". Apeirin itu tidak dapat dirupkan, taka da persamaannya dengan salah satu batang yang kelihatan di dunia ini, segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan rupanya dengan panca indera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. [46]
Anaximandros  terkenal dengan teori " First Principal" (Asal yang pertama). Asal yang pertama itu dinamakan " Apeiron" Kesimpulan teori ini adalah :
a.       Dari Aperion itulah timbulnya alam ini
b.      Apeiron itu tiada berakhir (kekal) dan tiada berhenti-hentinya bekerja, karena yang dijadikan apeiron haruslah kekal, tidka berakhir, dan selalu bekerja.
c.       Segala yang kelihatan itu, yang dapat ditangkap oleh panca indera adalah barang yang berakhir (yang mempunyai batas). Sedangkan apeiron tidak.
d.       Segala yang dapat dilihat dan diraba itu selalu dalam perobahan dan kejadian. Ia jadi dan hidup, kemudian mati dan lenyap, sedangkan apeiron tidak. [47]
Kesimpulan filsafatnya antara lain : filsafat alam, yang asal itu tidak berhingga dan tidak berkeputusan (al awal dan al akhir), yang asal sebagai dasar alam menurut anazimandros disebut " Apeiron". Apeiron itu tidak dapat dipersamakan dengan yang  nampak di dunia ini, ia mesti berbeda dan segalanya yang baharu (hadis), filsafat jiwa, menurut anaximundros, bahwa jiwa sebagai dasar kehidupan ialah serupa dengan udara. [48]
Anaximandros mengatakan bahwa dasar pertama itu ialah zat yang tak tertentu sifat-sifatnya, yang dinamainya to apairon. [49]
Menurut dia prinsip terakhir itu ialah ti apeiron. " yang tak terbatas" (Peras = batas). Paeiron itu  bersifat ilahi, abadi, tak berubahkan dan meliputi segala-galanya, bagaimana dunia timbul  dari prinsip " yang tak terbatas" itu ? oleh karena seuatu  perceraian (ekkrisis), maka dilepaskan dari  Aperiron itu unsure-unsur yang berlawaban (ta enantia) : yang panas dan yang hening dan yang basah, unsure-unsur itu selalu berperang yang satu dengan yang lain. Musim panas mislanya, musim panas selalu menyalahgunakan  musim dingin dan sebaliknya. [50]

3.      Herakleitos (535 – 475 SM)
Pokok-pokok filsafat Heraclius :

a.      Unsur yang asal yang jadi pokok bagi alam dan segala-galanya ialah api.
b.      Segala benda alam ini selalu berubah, tidak ada yang tidak berubah.
c.      Kemajuan timbulnya dari pertentangan dan perjuangan.
d.      Alam ini tertib, karena adanya undang-undang alam.
e.      Barang yang satu itu bisa baik baik dan bisa jadi lahat pada waktu itu juga, yakni tidak ada yang baik semata-mata atau jahat semata-mata. [51]
Kesimpulan filsafatnya adalah : anasir yang satu adalah api bahwa api itu lebih dari air dan udara, api sifatnya  bergerak dan muda bergantian warna. Api membakar semuanya jadi  api kemudian jadi abu, segalanya menjadi api,  dan api berubah  menjadi semuanya. [52]
Bahwa ia juga mengatakan satu saja anasir yang asal, yang menjadi pokok alam dan segala-galanya. Anasir yang asal itu menuruti pendapatnya api, api itu lebih dari pada air dan udara, dan setiap orang dapat melihat seifatnya sebagai  muda bergerak dan mudah bertukar rupa, api yang selalu bergerak dan berubah rupa itu menyatakan, bawa tak ada yang tenang dan tetap. Yang ada hanya pergerakan senantiasa, tidak ada yang boleh disebut ada, melainkan menjadi. Semuanya itu dalam kejadian. [53]
Filsafatnya ialah filsafat tentang " menjadi". Tidak ada satupun yang betul-betul  berada, sebab semuanya " menjadi". Segala sesuatu yang ada bergerak terus menerus, bergerak secara abadi. Segala sesuatu yang ada beralu dan tiada sesuatu yang tetap. Perubahan terjadi dengan tiada  hentinya, hirekleitos yang yakin akan adanya asas pertama. Asas pertama itu ditemukannya dalam api, segala sesuatu keluar dari api dan akan kembali lagi ke api. Api disini adalah lambing perubahan. Nyala api senantiasa makan habis bahan bakar baru. Bahan bakar senantiasa berubah menjadi asap atau abu, oleh karena itu api adalah lambing kesatuan dalam perubahan. [54]
Menurut Hirakleitas dengan istilahnya sendir, panta rhei, artinya : " Semua mengalir". Satu-satunya realitas adalah perubahan, tak terdapat  yang tetap. Realitasnya ialah berubah atau menjadi itu, sebab itu filsafatnya di sebut " filsafat menjadi". Ada menurut heraklleitas tak terdapat, itu  bukanlah realitas, adapun yang terdapat hanyala menjadi belaka, itulah keterangan sedalam-dalamnya bagi segala-galanya. Malahan ditarik keismpulan lebih lanjut, bahwa yang menjadi sebab atau keterangan yang sedalam-dalamnya itu iala gerak, perubahan atau menjadi itu. [55]

4.      Aristoteles  (384 – 225 SM)
Adapun ajaran-ajaran filsafat Aristoteles sebagai berikut : logika sebagai ajaran tentang berfikir yang secara ilmiah, yang membicarakan hal bentuk-bentuk fikiran itu sendiri (pengertian, pertimbngan dan penalaran) dan hukum-hukum yang menguasai pikiran itu, yang ada sebagai potensi ini pada dirinya sukanlah sesuatu, sekalipun dapat menjadi sesuatu "  yang ada" sebagai potensi yang dapat di pandang sebagai perealisasian dari " yang ada" secara  terwujud. Secara hakiki keduanya harus dibedakan,a kan tetapi dapat dipisahkan, penyimpulan adalah suatu penalaran, dengannya dari dua pertimbangan dilahirkan pertimbangan yang ketiga, manusia adala fauna, gayus adalah manusia, jadi gayus adalah fauna.  Bahwa karya-kaya Aristoteles tentang " filsafat pertama", yang mengenai hal-hal yang bersifat ghaib, ditempatkan sesudah  karya-karyanya tentang  fisika (meta fisika). Kata meta mempunyai  arti rangkap gai tepat sekali untuk dipakai guna mengungkapkan isi pandangan-pandangan yang mengenai " hal-hal yang dibelakangi gejala-jela fisika. [56]
Menurut Allah sebagai penggerak pertama yang tidak  digerakkan", dan gerak dalam jagat raya mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karyannya  Eudemos dan perihal jiwa Aristoteles disini tanpa ragu-ragu menerima beberapa pokok ajaran plato seperti pra eksistensi jiwa, perpindahan jiwa, dan anggapan bahwa pengetahuan  dapat disamakan dengan pengingat. Adapun karya-karya Aristoteles, logika,  filsafat alam, psikologi metafisik, etika, politik  dan ekonomi, retorika dan pertina. [57]
Adapun filsafat Aristoteles selain  berdasarkan kepada pikiran, juga berdasarkan kepda penglihatan, pengalaman, dan perbandingan, tentang ketuhanan : khalik itu ada (wajib  wujud), khalik yang wajibul wujud itu tiada berubah-ubah,a lam itu menuju kepada kenaikan dan kesempurnaan, filsafat jiwa : manusia itu mempunyai jiwa, kesenangan jiwa di akherat. [58]
Filosofis alam : dalam pandangan Aristoteles, alam meliputi semuanya yang berhubungan dengan materi dan badan-badan yang bergerak dan diam, perubahan atau gerakan dalam arti luas dapat dibagi dalam timbul dan lenyap, gerakan dalam arti yang terbatas merupakan perubahan kwanilita, perubahan kwalita dan perubahan tempat. [59]
Filsafat-filsafat Aristoteles adalah sebagai berikut : tentang alam, dalam pandangannya alam meliputi  semuanya yang berhubungan dengan materi dan  bahan-bahan yang bergerak dan diam, tentang etika, adapun tingkah laku manusia ini ditunjukkan kepada kebahagiaan, sebetulnya semua tindakan bertujuan kepada kebahagiaan. [60]

5.      Socrates (470 – 399 SM)
Menurutnya filosofis bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dagma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofisnya mencari kebenaran. Oleh karena  ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan kebenaran itu ia tidka memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jaln Tanya jawab. Socrotes mencar pengertian, yaitu bentuk yang tetap dari pada sesuatunya. [61]
            Bagi dia filsafat  bukan isi bukan hasil, bukan ajaran berdasarkan dagma, melainkan fungsi hidup. Filsafatnya mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan, ia bukan ahli pengetahuan tapi pemikir. Tujuan filsafat  Socrates, ialah mencari kebenaran yang berfikir selama-lamanya tentang kebenaran  menurut Socrates, dalam mencari tidak berfikir sendiri, melainkan  berdua dengan yang lain, dengan jalan   Tanya jawab. Tentang etika, Socrates mengatakan budi ialah tahu, amaksudnya, budi-dbudi timbul dengan pengetahuan inilah intisasi daripada etikanya. Orang yang berpengalaman dengan sendiri berbudi baik mengetahui  hukum mestinya bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu, dari ucapannya itu dapat  diketahui, bawah ajaran etika Socrates intelektual sifatnya selain itu juga rasionalitas. [62]
            Menurut Socrates filsafat ialah tidak lain dari usaha melainkan pengertian (sejati) untuk mencapai kebijakan. Dalam pada itu ada kesulitannya. Menurut Socrates barang siapa mempunyai pengertian  dan pengetahuan yang baik tentula berlaku baik  ia amat mengutamakan pengajaran, tidak mengutamakan pendidikan. [63]
            Pokok-okok filsafat Socrates antara laun : kebenaran umum itu ada, mengenal diri " manusia  hendakla mengenal diri sendiri, jangan membahas yang di luar diri, anya kembali kepada diri". Taat kepada undang-undang, adanya akal yang mengatur keabadian roh. [64]
            Menurut Socrates. Alat untuk mencapai eudaimonia atau kebahagiaan ialah kebijakan atau keutamaan (arate), pendirian Socrates yang terkenal adalah " Keutamaan  adalah  pengetahuan", keutamaan di bidang hidup baik tentu menjadi orang yang dapat hidup baik. Hidup baik berarti : mempraktelan pengetahuan tentang hidup baik itu, jadi baik dan jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan  bukan dengan kemauan manusia. [65]

6.      Zeno (490 – 430 SM)
Menurut Zeno: " Kalau ada yang banyak tentu  dia dapat dibagi-bagi. Hasil bagian itupun dapat pula di bagi-bagi, sampai tiap-tiap bagian itu sudah jadi begitu kecil hingga tiada mempunyai bagun lagi, dengan lain perkataan ia menjadi sekecil titik yang tiada mempunyai besar dan bagun. [66]
            Menurut zeno gerak ialah suatu khayalan, dan bahwa tidak ada kejamahan serta tiada  ruang kosong, ada bermacam-macam alsan yang dikemukakan untuk membuktikan, bahwa gerak  adala suatu khlayalan. Diantaranya adalah, bahwa Auhilles, pelari termasyhur yuani, tiadak akan pernah dapat mengejar seekor kura-kura  yang berjalan di depannya dalam jangka waktu tertentu. Sebab setiap kali Auhilles sampai di tempat kura-kura mulai berjalan, kura-kura itu sudah meninggalkan tempat startnya demikian itu terjadi terus menerus. [67]
            Zeno mempertahankan benar kesatuan ada  ini dan mengingkari benar gerak. Jika orang melepaskan anak panah : terlihat gerak anak   pana itu ? yang dilihatnya tidak lain dari al : anak panah itu sekarang ini ada disini, disitu dan kemudian di sana. Jadi bukan geraknya yang terdapat melainkan yang merupakan realist ialah ada-Nya.[68]
            Menurut dia terhadap paham yang mengatakan bahwa " yang  banyak" itu ada, ia berkata : jika benar ada  yang banyak itu, ia dapat dibagi-bagi bagian-bagiannyapun dapat lagi dibagi-bagi. Demikian juga bagian daripada bagian, dan seterusnya akhirnya tiap-tiap bagian iitu jadi  begitu kecil dan tak punya ukuran (bangun) lagi.  Terhadap paham yang mengatakan, ada ruang, zeno berkata : jika  yanga da berada dalam sebuah ruang, ruang itu sudah tentu tempatnya dalam ruang pula. Dan ruang yang kemudian ini terletak lagi dalam sebuah ruang. Demikianlah seterusnya dengan tiada berkeputusan : ruang dalam ruang. [69]
            Menurut zeno dialaktika, yaitu suatu argumentasi yang bertitik tolak dari suatu pengandaian atau hipotesa, dan dari hipotesa tersebut ditarik suatu kesimpulan. Dalam melawan penentang-penentangnya kesimpulan yang  dianjurkan oleh Zeno dari hipotesa itu salah. Menurut Zeno gerak itu sebenarnya  tidak ada dan tidak mungkin.  Jika orang melepaskan anak panah : terlihat gerak anak panah itu ? yang dilihatnya tidak lain dari hal : anak panah itu sekarang ini ada disini, disitu kemudian disana, jadi bukan gerakannya yang terdapat melainkan yang merupakan realitas ialah adanya. [70]

7.      Protosagoras (480 – 411 SM)
Menurut ia " manusia adalah ukuran untuk segala-galanya : untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada dan tiap-tiap Negara mempunyai kebiasaan sendiri. " mengenai dewa-dewa saja tidak merasa sanggup menetapkan apakah mereka ada atau tidak ada. [71]
            Filsafat protagoras dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Bagi protagoras manusia adalah kuran segalanya bagi yang ada karena adanya, bagi yang tak ada karena tidaknya.
2.      Bagi, Protagoras kebenaran umum tidak ada. Amksudnya bahwa semua itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya, pandangan berubah-ubah menurut yang benar sekarang, besok tidaklagi.
3.      tentang dewa, dewa yang dihormati orang gerik pada waktu itu ia berkata bahwa ia tidak tahun ada atau tidak ada. [72]
bagi Protagoras " manusia itu adlaah ukuran  bagi segalanya, bagi yang ada karena danya, bagi yang tidak ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya, maksdunya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah  hasil pandanganku sendiri. Pandnagan berubah-ubah menurut yang dipandang yang benar sekarang, besok barangkali tidak lagi. Sebab itu tiap-tiap pandangan bergantung kepada dua macam gerakan. Mencari pengetauan juga memandang, sekalipun memandang dari dalam dengan jiwa dengan pikiran. [73]
            intisari dari filsfatanya ialah,  bahwa manusia menjadi ukuan bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dan yang tidak ada. Manusialah yang menentukan benar dan tindakannya sesuatu atau dan tidak adanya sesuatu, artinya apakah sesuatu benar atau tidak, hal itu tergantung kepada orangnya, menurut protoogoras, Negara didirikan oleh manusia, bukan karena  buatan alam, guna mengatasi kesukaran-kesukaran yang ditimbulkan oleh hidup bersama itu mereka menciptakan apa yang disbeut keadilan (dike) dan hormat terhadap orang lain  (aidas). [74]

8.      Gergias (480 – 380 SM)
Karyanya  yang terkenal iala " tentang alam atau tentang  yang tidaka da". Dari bukunya itu tampaklah bawa ia adalah seorang hinillis. Baginya tidak sesuatupun yang ada. Sendainya ada sesuatu, sesuatu itu tidak dapat dikenal. Seandainya sesuatu itu dapat dikenal,  pengetahuan itu tidak dapat disimpulkan kepada orang lain. Selanjutnya sofisme berkembang ke jurusan yang ditentutan oleh gorgias, yaitu cenderung kepada nihilisme, penilaian orang terhadap sofisme berbeda-beda. Ada orang yang  dapat melihat segi-seginya yang menguntungkan. [75]
            Georgias menulis suatu buku yang berjudul tentang yang tidak ada atau tentang alam. Dalam buku ini ia mempertahankan tiga pendirian. 1) tidak ada sesuatupun, 2) seandainya sesautu ada, maka itu tidak dapat dikenal, 3) senadainya sesuatu dpaat dikenal, maka pengetahuan itu tidak bisa disampaikan kepada orang lain. Ketiga pendidian ini banyak di dukung argument. [76]
            Menurut dia  tak terdapat sesuatu  yang ada,  jika sekiranya terdapat  yang ada itu, kita toh tak dapat tahu akan ada itu jika sekiranya tahu juga, kita tak mungkin memberitahukan. [77]
            Menurut dia tak ada yang benar baginya, sebab itu ia disbeut nihillis. Dasar yang dikemukakannya.  Sebagai alas an meiadakan ada tiga. Pertama, ada sesuatunya, sebab kalau ada sesuatunya, mestilah   ia terjadi dan pula selama-lamnya, terjadi itu tidak bisa timbul dari yang ada atau dari yang tidak ada, ada selama-lamanya mustahil pula, sebab ada selama-lamnya itu  sama dengan tidka berhingga. Kedua, jika kirnaya ada pengetahuan tentang yang ada itu, adalah ia bua pikiran, dan yang tidak ada sekali-kali tidak dapat masuk dalam pikiran. Ketiga, jika kiranya kita mengetahui  sesuatunya. Pengetahuan itu tidak dapat kita kabarkan kepada orang lain. Tiap-tiap gambaran berlainan dari pada barang yang digambarkan.[78]
            Menurut dia  tak terdapat sesuatu yang ada. Jika sekiranya terdapat yang itu, kita  toh tak mungkin memberitahukan. [79]

9.      Parmenides (540 – 475 SM)
Yang satu menurut Parminides   Tidak dipandang sebagai persatuan yang utuh-seutuhnya yang lahir itu ada dalam persatuan tuhan dan alam tidak ada yang banyak sebagai jumlah satu-satunya, ajarannya tentang yang ada. Parmenides mengakui adanya pengetahuan yang bersifat tidak tetap dan berubah-ubah, serta pengetahuan menenai yang tetap. [80]
            Menurutnya yang satu itu tidak dipandangnya sebagai persatuan tuhan dan alam, melainkan sebagai adanya yang sepenuh-penunya, yang lahir itu ada ! dalam persatuan tuhan dan alam tidak ada yang banyak sebagai jumlah satu-satunya. Sebagai pokok pendiriannya disebutnya, bahwa ada kebenaran-kebenaran yang bulat, kebenaran yang sepenuhnya. [81]
            Menurut dia bahwa " yang ada" itu ada. Itulah satu-satunya kebenaran" yang tidak ada " tidak mungkin meruapkan objek bagi pemikiran kita dan kita tidak bisa berbicara tentangnya. Kebenaran yang diuraikan tadi mempunyai  konsekuensi-konsekuensi yang tidka kecil. Pertama-tama, " yanga da " adalah satu dna tak terbagi" Pluralitas (kemajemukan) tidak mungkin tentu saja, karena tidak ada sesuatupun yang memisakan " yang ada",  berikutnya yang ada ersifat kekal dan tidak akan dimusnahkan," dengan kata lain, yanga da bersifat kekal dan berubah. Lantas harus dikatakan bahwa " yang ada" itu sempurna. [82]
            Pokok-pokok filsafat paramides adalah sebagai berikut :
  1. Kebenaran itu ada, yaitu kebenaran yang bulat dan penuh.
  2. Yang ada itu satu, dan tetap (tiada berubah).
Yang banyak tidak ada. Paramenides  menyimpulkan pendapatnya dalam sebuah semboyan yaitu :" hanya ada itu ada, yang tidak ada itu tidak". Mana karena menurut pendapat pamenides bahwa  yang ada itu satu dan tetap, terpaksalah ia meniadakan adanya alam yang banyak dan bermacam-macam itu karena hanya yang ada itu ada, yang tidka ada itu tidak ada.[83]
            Arti besar pamenides ialah, bahwa ia menemukan secara mendalam idea atau gagasan tentang " ada", selnajutnya dikatakan, bahwa da jalan guna mendapatkan pengetahuan, yaitu : jalan yang benar dan jalan yang sesat. Jalan yang sesat, yang menipu, memberi pengetahuan yang telah dimiliki orang hingga saat ini, yiatu pengetahuan yang gagasan dasarnya adalah kejamakan dan perubaha-perubahan ini dikarenakan oleh penipuan indera manusia. Menurut parminides"  yang ada itu ada". Inilah yang disebut kebenaran yang tidak mungkin di ungkiri. Mengenai " yang ada" orang dapat mengemukakan dua pengandaian. Orang dapat mengemukakan, bahwa " yang ada" itu tidak ada, atau bahwa" yang ada" itu sekaligus ada dan tidak ada.
           
10.  Plato  (472 – 347 SM)
Bagi plato idea merupakan sesuatu yang objektif. Ada idea-idea, terlepas dari subjek yang berfikir. Idea tidka tidak diciptakan ole pemikiran kita, idea-idea tidak tergantung.pada idea-idea. Justru karena adanya idea-idea yang berdiri sendiri, pemikiran  kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak  lain dari pada maneruh perhatian kepad aidea-idea itu. Bahwa menurut Plato realitas selurunya seakan-akan terdiri dari dua " dunia"  lain, suatu dunia ideal atau dunia yang terdiri atas idea-idea, dalam dunia ini sama sekali tidak ada perubahan. Menurut olato ada dua  pengenalan, yaitu pengenalan idea-idea, dan pengenalan tentang benda-benda jasmani.
            Di dasarkan  atas patokan lahiriah, dalma 5 kelompok, yaitu karyanya ketika ia masih muda,  karyanya pada  tahap peralihan, karyanya tentang ide-ide, karyanya pada  tahap kritis dan karya-karyanya pada masa tuanya. Dinatara buku-vuku yang ditulisnya ialah : apologi, politeia, sophists, timanios, dll. Pemecahan plato terletal disini, bahwa yang serta beruba itu dikenal oleh pengamatan, akan tetapi yang tidak berubah dikenal oleh akal. Umpamanya : di dalam pengamatan kita mengenal segitiga yang bermacam-macam, ada yang sama sisi, ada yang siku-siku, ada yang besar, ada yang kecil dan  lain-lainnya. Segala macam segitiga  dikenal dengan melalui pengamatan. Akan tetapi dengan akal kita  sampai kepada segitiga seperti keadaanya yang sebenarnya. Yang tetap, yang tidak berubah, yang kela, yang tidak tegantung pada segitiga, yang kita amati. Demikian juga  halnya dengan " yang baik" yang benar" dan " yang indah". Dengan , melalui akal kita, kita mengenal yang  baik (kebaikan), yang benar (kebenaran) dan yang indah (keindahan), yang tetap, yang tidak berubah, yang kekal itu oleh plato disebut " idea". Bagi plato idea bukanlah gagasan yang hanya terdapat di dalam pikiran saja, yang bersifat subyektif. Idea ini bukan gagasan yang dibuat manusia, yang ditemukan manusia, sebab idea ini bersifat obyektif, artinya : berdiri sendiri, lepas daripada subyek yang berfikir, tidak tergantung kepada pemikiran manusia, akan tetapi sebaliknya, idealah yang memimpin pikiran manusia. Telah disinggung, bahwa di dalam dunia idea tiada kejamakan, dalam arti ini, bahwa " yang baik" hanya satu saja, dan seterusnya, sehingga  tiada bermacam-macam " yang baik". Akan tetapi ini tidak berarti  bahwa dunia idea itu hanya terdiri dari satu idea saja. Oleh karena itu dilihat dari segi lain harus juga dikatakan bahwa ada  kejamakan, ada bermacam-macam idea, idea manusia, binatang, dan lain-lainnya. Oleh plato jiwa dan tubuh dipandang sebagai dua kenyataan yang harus dibeda-bedakan dan dipisahkan. Seperti halnya dengan corates, tujuan hidup manusia ialah eudemonia atau hidup yang baik, telah disebutkan, bahwa  jiwa manusia terdiri dari 3 bagian, yaitu : bagian yang rasional, ialah bagian tertinggi, yang diarahkan kepada melihat ide-ide; bagian tengah, bagian kehendak, yang menjadi alat akal (rasio); bagian yang terendah, tempat nafsu-nafsu.[84]
            Filsafat plato dapat dibaca dalam buku yang dikarang oleh filosofis ini sendiri. Buku-buku itu banyak, menurut thyrasyyllus ada tiga puluh enam (36) buah buku. Bahwa menurut plato kenyataan-kenyataan itu tetap tiada berubah-ubah. Plato juga berpendapat bahwa diri manusia itu adalah himpunan dari kenyataan-kenyataan dan kenyataan-kenyataan itu menurut plato telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya lebih lanjut plato memmbagi" yang ada"  itu kepada tiga golongan yaitu: alam yang dirasa ini sifatnya berubah-ubah, tiada  tetap dan selalu dalam kejadian. Alam pengertoan yaitu alam gambaran, dia  hanya berada dalam pikiran. Dia menggambarkan jenis dari apa yang dirasa, dan apa yang dirasa itu adalah satuan dari pengertian  jenis yang berada dalam pikiran itu. Adapun alam kenyataan, yaitu  alam kebenaran umum yang dimungkiri kebenarannya oleh kaum sofis, tetapi Socrates menetapan adanya, dan begitu pula parmenindes sebelumnya. Dia adalah alam fikiran, sifatnya tetap tiada berubah-ubah. Umpamanya keadilan, kemanusiaan, kebaikan, kesucian, dan lain-lain. Menurut plato, tuhan menciptakan alam yang dirasa, sebagai menciptakan " manusia" dari kemanusiaan plato juga membagi pengetahuan manusia kepada tiga derajat, yaitu : pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan. [85]
            Yang berubah itu dikenal dengan pengalaman, adapun yang tetap, kita kenal, dengan budi kita, yang beruba itu reaklitas dunia pengalaman ini.d alam pengalaman  kita, kita tahu misalnya akan segi-segi bermacam-macam, dalam pengalaman kita. Kita tau misalnya akan segi-segi bermacam-macam, dalam pengalaman kita, kita tahun misalnya akan sgei-segi bermacam-macam dalam budi kita kenal segitiga yang satu, yang tetap, bahkan mungkin mutlak. Begitu pula kita kenal barang-barang yang indah dan tingkah laku yang baik. Tetapi pengertian " keindahan" itu tidak kita alami, melainkan merupakan pengetahuan budi. Begitu pula harus dikatakan tentang pengertian " kebaikan". Pengertian yang tetap. Ada diterima dengan memajukan dunia idea, yang tetap dan disitu idea-idea diterima dengan memajukan dunia idea, yang tetap dan disitu, idea-idea itu, sungguh-sungguh dan merupakan realitas. [86]
            Plato berpendapat bahwa sesuatu masyarakat harus dibangun atas tiga lapisan sesuai  dengan tiga daya utama yang menjadi sumber perilaku manusia. Plato berpendapat bawa prilaku manusia bersumber pada tiga daya utama, yaitu gairah, perasaan, dan kecerdasan, masing-masing dengan pusatnya  di perut , di dada, dan dikepala. Demikianlah maha  masyarakatpun terdiri atas mereka yang terutama bertugas menghasilkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kehidupan keseluruhan masyarakat (para petani, peternak, pengrajin, pedagang, nelayan, dan sebagainya);  lapisan kedua (ditengah) terdiri atas para pembela Negara (para hulubalang dan perajurit) yang berkewajiban menjamin keselamatan Negara dalam menghadapi  berbagai ancaman, khusunya ancaman perang. Lapisan ketiga ( di atas) terdiri dari para cendikiawan dan filusuf yang berkewajiban memerintah sebagai atau sarana arif bijaksana. [87]

FILSAFAT ABAD PETENGAHAN


1.      Platinus  (205 – 270)
Lahir di lycopolis (Mesir) tahun 203 M. tahun 242  ia menyertai kaisar gordianus melewat ke dunia timur, ia mulai mengajar sekitar tahun 244 M. [88]
            Platinus mengatakan " jiwa manusia yang dijadikan dalam badan dapat  mengalami keburukan dan penderitaan, ia hidup dalam kesengsaraan, ketakutan dan kerinduan dan juga dalam  semua keburukan. Badan merupakan penjara dan liang kubur. Baginya (jiwa), sedang alam semesta ini bagaikan gua", pada plotinus terdapat pandangan yang kembar terhadap alam yang nyata alam indera. [89]
            Platinus mengatakan " apabila sesuatu  telah mencapai kesempurnaannya, maka ia melahirkan, ia tidak tahan tinggal apai memanaskan, es mendinginkan, bagaimana sesuatu yang sempurna akan tetapi diam (tinggal) sendirian, sedang ia adalah zat kebaikan. [90]
Hasil karyanya terserat (enneads – kesembilanan), terdiri 54 karangan pendek. Dan dikupulkan dalam 6 kumpulan masing-masing terdiri dari 9 karangan kecil. [91]
            Tuhan ialah yang baik, yang menjadi tujuan semua kehendak, yang esa  yang diikuti segala sesuatunya dalam adanya. Ada segala sesuatu itu   timbul dari ada Tuhan Yang Maha Esa Itu, yang Esa Itu, demikian platinus, keluar dari dirinya, tanpa gerak, seperti sinar berkilau-kilauan yang meliputi matahari selalu dipancarkan oleh matahari itu, sedangkan matahari itu selalu dipancarkan oleh matahari itu sedangkan matahari itu selaku tetap sama. [92]
            Plotinus (284 – 269), dilairkan di lykopolis (mesir). Pada waktu ia berumur 28 tahun ia tertarik dengan filsafat. Selama  Sebelas taun ia belajar pada ammonius sakkas. Pada tahun 244 ia berdiam di Roma. Hasil karyanya diterbitkan oleh muridnya, porphyries ( + 304) dalam 6 enneade, 6  bagian yang masing-masing terdiri dari 9 buku. [93]
            Menurut plotinus, Allah tidak termasuk dunia ini, tetapi termasuk dunia yang tidak diamati, yang mengamati dunia ini. Ia adalah Esa, tanpa pembandingan, dalam arti bahwa ia  tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga, karena tiada sesuatu di sampingnya. Selanjutnya ia mengatasi segala hal yang berlawanan, karena ia adalah Esa.  Secara sempurna akal manusia masih senantiasa ada subyek dan obyek, masih  senantiasa ada perbuatan yang memikir dan pikiran. Oleh karena itulah keadaan Allah SWT  tidak dapat diuraikan bagaimana. Padanya  tiada predikat, tiada sifat, juga tidak  dapat dikatakan apakah padanya, ada kesadaran dan kehendak atau tidak. [94]
            Ajaran plotinus tentang jiwa adala dasar teorinya tentang hidup yang praktis dan ajaran jiwa adalah moral. Menurut pendapatnya, benda itu karena tidak terpengaruh oleh yang satu, yang baik, adalah pangkal dari yang jahat. [95]
            Filosofi plotinus berpangkal kepada keyakinan, bahwa sehala ini, yang asal itu adalah satu dengan tidak ada pertentangan di dalamnya.  Yang satu itu bukan kwalita dan bukan pula yang terutama dari segala keadaan dan perkembangan dalam dunia, segalanya dating dari suatu, yang asal, yang asal itu adalah sebab kwanitita, bukan akal bukan jiwa. Bukan dalam bergerak bukan pula dalam tenan berhenti, bukan dalam suang dan bukan dalam waktu. [96]
            Plotinus, lahir di Mesir tahun 204 demikian nama tokoh neplatonisme, mendasarkan pendapatnya pada filsafat plato terutama dalam ajarannya temntang idea  tertinggi baik atau kebaikan. Itulah sebabnya maka filsafat platinus merupakan platonisme. Platinus menuju pengalaman batin dan persatuan dengan Tuhan.  Dunia ini bukanlah tujuan pikiran seperti yang dulu-dulu, melainkan hanya alat  untuk  mencapai persatuan  dan isi  pikiran Platinus. Tuhan  ialah yang baik, yang menjadi tujuan semua kehendak, yang esa yang diikuti segala sesuatu dalam adanya. Ada segala sesuatu itu, timbul dari ada tuhan yang esa itu. Yang esa itu, demikian plotinus, keluar dari dirinya, tanpa gerak, tanpa mau dan tanpa kehendak (Merupakan) pancaran sinar yang tak bergerak, seperti sinar berkilau-kilau yang meliputi matahari selalu dipancarkan oleh matahari itu, sedangkan matahari itu selalu tetap sama. Demikian platinus  makhluk bukanlah ciptaan tuhan, melainkan pancarannya tuhan berkembang-kembang dan timbulla beberapa hal. yang pertama timbul dari yang esa itu disebutnya jira, yaitu yang menjiwai alam semesta yang timbul, tidak diciptakan oleh  Tuhan, maka tugas manusia ialah kembali kepada Tuhan. Dalam pada itu manusia tertarik oleh dunia dan ia mungkin  amanat mencurahkan piker tenaganya kepada dunia, manusia harus berpaling dari keduniawian untuk mencapai keindahan di dunia ini. Dengan demikian menurut paltibus dalam intinya dan dalam hakekatnya  ada itu sungguh-sungguh hanya satu belaka, tuhan dan semua (lainnya) berharkat sama, ajaran yang menyatakan semuanya itu berhakekat Tuhan disebut panteisme (serba Tuhan) meninggal di Roma tahun 270. [97]

2.      Aurealius Augustinus (354-430)
Dilahirkan di thaqasle, di numedia. Ayahnya bukan Kristen tapi ibunya Kristen. Ia bertobat dan dibaptiskan pada tahun 387. Kemudian ia dibaktiskan menjadi imam (329). Dan ia  diangkat menjadi ushup. Di hippo (396). Karyanya filsafat Kristen  yaitu : canfessiones (pengakuan –pengakuan), de trinitate (tentang trinitas) dan de ciutale dei (tentang Negara Allah SWT). [98]
            Augustiunus menentang aliran skeptisisme. Menurut dia, sikap sheptis disebabkan  karena danya pertentangan batiniah.ornag dapat meragukan segala sesuatu, akan tetapi satu hal yang tidak dapat diragukan olehnya, yaitu bahwa ia ragu-ragu. Barang siapa ragu-ragu sebenarnya ia berfikir, dan barang siapa berfikir, tidak boleh tidak ia berada. Aku ragu-ragu, maka aku berfikir, dan aku berfikir, tidak  boleh tidak ia berada. Aku ragu-ragu, makaaku berfikir, dan aku berfikir, maka aku berada.[99]
            St. Augustinus dilahirkan tahun 354 M di taagaste (provinsi Numidia) Al Jazar ayanya tidak beragama  tapi ibunya seorang masehi, ketika  usianya 19 tahun,  ia membuka sekolah  retorika di cortage, lalu ia menjadi guru retorika di Roma dan milono dan ia wafat tahun 430 M. [100]
            Karya-karyanya antara lain :
1)      Cenfession
2)      De civitate dei (the city of good). [101]
Augustinus membagi keragu-raguan kepada dua bagian yaitu  keragu-raguan negatif . suatu sikap  yang berlebih-lebihan dan berlawanan, dan keragu-raguan positif dimana kita bias mengetahui dengan yakin kebenaran-kebenaran obyektif. [102]
            Augustinus mengatakan pula di tempat lain “ ketika yakin akan wujudnya, tidak mungkin engkau takut salah, Karen apabila engkaus alah, maka artinya engkau ada. [103]
            Menurut augustinus  dapatlah budi mencapai kebenaran dan kepastian. Kebenaran dan kepastian itu dipaparkan dengan putusan-putusan yang baru, niscaya dan tak berubah, adapun putusan-putusan ini, demikian agustinus, berdasarkan atas  realitas yang baru, niscaya dan tak berubah yang mengatasi budi dan pikiran manusia. Realitas itu ialah Tuhan sendiri. [104]
            Augustinus lahir di tagasta, Numidia (Algeria) pada tanggal 13 Nopember 354 M dan meninggal tanggal 28 Agustus tahun 430 M. [105]
Pandangan augustinus tentang  bahwa : terpisah dari Tuhan tidak ada realitas,  karena esensi hanyalah milik Tuhan, jadi Tuhan yang memilikinya, Hakikat yang sebenanya adalah sebab awal. Hany atuhanlah yang merupakan sebab awal.[106]
3.      Thomas Aguino (1225 – 1274)
Dilahirkan di Rocca secca, dekat nopels, dari suatu keluarga bangsawan. Semual ia belajar di napoles, kemudian di paris, menjadi murid albertus, agung, lalu di koln, dan kemudian di Paris Lagi. Sejak tahun 1252 ia mengajar di parist dan italia.[107]
            Argument pertama diangkat dari sifat alam yang selalu bergerak.  Argument ke 2 disebut yang mencukupi (efficient cause)
Argument ke 3 ialah argument  kemungkinan dan keharusan
Argument ke 4 memperhatikan tingkatan yang terdapat pada ala mini
Argument ke 5 berdasarkan keterangan alam. [108]
4.      Thomas Aquinas (1225 – 1274)
 Yang dijuluki sebagai pangeran masa skolastik. Thomas Aquinas berusaha menciptakan sintesis antara filsafat dan thologi seperti terurai dalam karya utamanya “ sumena theologiae” karyanya berjumlah 22 jilid oleh paus leo XIII dinyatakan sebagai filsafat resmi yang berlaku dalam lingkungan  gereja katolik. Dan hingga kini masih sebagai acuan pokok ia menarik garis batas antara theology dan filsafat. [109]
Menurut Thomas Tuhan menciptakan segala sesuatunya itu tanpa mempergunakan  bahan. Oleh karena itu Tuhan itu maka baik.  Kebaikan yang sempurna.  Maha Segala sesuatunya yang ikut serta dengan. [110]

FILSAFAT ABAD MODERN


1.      Renaissance
Masa ini dikenal dalam sejarah sebagailahirnya kembali  zaman kuno atau Renaissance. Orang tidak lagi memusatkan pikirannya kepada tuhan dan surga  melainkan kepada dunia saja dan dalam duni ini yang merupakan pusat utama ialah manusia.
Aliran yang membusatkan  pandangan kepada manusia itu disebut humanisme, mungkin terjadi dalam aliran ini bahwa manusia selalu menjadi humanisme  nir tuhan (Atheistis). Dalam pada  itu ilmu bermacam-macam mencapai perkembangan sedang pendapat-pendapat baru pada zaman Renaissance ini biasaya amat bertentangan satu sama lain. Tiap-tiap pendapat merasa benar,  orang bebas dalam segalanya. [111]
            Istilah Renaissance berasal dari bahasa perancis yang berarti kebangkitan kembali. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia dan bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. Zaman  Renaissance kurang   menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Descrates sering disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern. ciri utama Renaissance ialah humanism, individualism, lepas dari agama, empirisme dan nasionalisme itu. Agama (Kristen) semakin ditinggalkan, ini  karena semangat humanism itu. Ini kelihatan denganjelas kelak pada zaman moderen.
            Zaman modern filsafat du dahului oleh zaman Renaissance ada pada filsafat moderen. Tokoh pertama filsafat moderen adalah Descartes. Ciri itu ialah menghidupkan kembali nasionalisme yunani (Renaissance), individualism, humanism, lepas dari pengaruh agama lain-lain. Descrates menyusun metode yang berdiri argument-argumen, metode Descartes itu terkenal dengan sebutan cagito Descartes. [112]
            Renaissance adalah suatu babak baru dalam perkembangan pikiran tetang manusia dan masyarakat serta pengetahuan tentang alam umumnya. Dlaam zaman Renaissance terjadi pula gerakan reformasi terhadap gereja. Dalam masa Renaissance dicanangkan humanism sebagai nilia yang diunggulkan dalam usaha memahami permasalahan manusia dan kemanusiaan. Zaman Renaissance itu meliputi tiga bidang:
-         Berkembangnya filsafat social dan politik
-         Reorientasi ilmu bersifat cabangnya dalam berbagai disiplin. [113]

Ini istilah bahasa Perancis, dalam bahasa latin, Retnasci berarti lahir kembali (rebirth). Karya filsafat pada  abad ini sering disebut filsafat Renaissance, Renaissance ialah periode perkembangan peradaban  yang bertolak di ujung atau sesudah abad kegelapan sampa muncul abad modern. zaman Renaissance tidak menghasilkan karya-karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains, ciri utama Renaissance ialah humanisme, individualisme lepas dari agama, empirisme dan rasionalisme. Filsafat berkembang bukan pada  zaman Renaissance itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (zaman moderen). Ciri filsafat Renaissance  ada pada filsafat moderen. Tokoh pertama filsafat modern   adalah Descartes. Pada filsafatnya ciri itu antara lain ialah menghidupkan  kembali rasionalisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.[114]
            Filsuf-filsuf terpenting dari Renaissance itu N. Macciavelli  (1469 – 1527), Thobbes (1388-1679) thmore (1478-1535) dan Fr. Balon (1561-1626). Pembaharuan terpenting yang  kelhatan dalam filsafat Renaissance itu " Antooposentrisme"nya pusat perhatian pemikiran  itu tidak lagi kosmos, sepertid alam zaman kuno atau tuhan, seperti dalam abad pertengahan, melainkan manusia, mulai sekarang manusialah yang dianggap sebagai titik focus dari kenyataan.[115]

2.      Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah  da mengetes pengetahuan. Jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami objek pemiris, maka Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir :
Rasionalisme ada 2 macam yaitu :
-         Dalam bidang agama
-         Dalam bidang filsafat
Rasionalisme adalah bidang agama biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Rasionalisme dalam bidang filsafat terutama berguna sebagai teori pengetahuan. [116]
Menurut Descrates budi atau rasional yang menjadi sumber dan pangkal segala pengertian dan budilah yang memegang pimpinan dalam segala mengerti, itulah sebabnya maka aliran ini disebut Rasionalisme. Maka menurut Descrates realitas itu terbagi atas dua suasana yang berdampingan.
-         Kesadaran yang sebenarnya berfikir
-         Bahan yang merupakan keluasan (exetention)
Dengan demikian dalam manusia oleh Descartes diterima dualism yaitu jiwa dengan budi dan kesadarannya serta badan dengan keluasannya, dua hal ini berdampingan  benar tidak merupakan kesatuan akan  tetapi dapat mempengaruhi satu sama lain. [117]
            Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengayakan bahwa akal (reason), adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan menurut aliran rasionalis suatu  pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir para tokoh aliran Rasionalisme diantaranya adalah Descartes (1596-1650 M), spinaza (1632-1677 M), dan leibiniz (1646-1716 M).
Aliran Rasionalisme ada dua  macam yaitu :
-         Dalam bidan agama
-         Dalam bidang filsafat
Empirsme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, maka Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir, pengetahuan dari  empirisme  dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berfikir adalah kaidah-kaidah yang logis. [118]

3.      Idealisme
Idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakekat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya  pada jiwa (mind) dan spirit (roh) istilah ini diambil dari " idea" yaitu sesuatu yang  hadir dalam jiwa. Idealisme menggunakan argument epistemology tersendiri oleh karena itu. Tokoh-tokoh theisme yang menganjurkan bahwa materi bergantung pada spirit. Mereka menggunakan argument yang mengatakan bahwa objek-objek filsafat pada akhirnya  adalah ciptaan Tuhan. [119]
            Dengan budi murni orang tak mungkin mengenal yang diluar pengalaman, karena pengetahuan budi itu selalu  melalui dengan pengalaman, metasifika murni tak menungkin mulai dengan pengalaman. Murid-murid kant tidak puas akan batasan budi itu, mereka akan bermetafisika dan dari dasar itu akan dibangun suatu system metafisika. Merupakan subjek dasar tindakan merupakan subjek yang sekongkrit-kongkritnya dari suatu dasar menurunkan kesimpulan-kesimpulan serta memberikan keteranan keseluruhan ada atu yang menyebut dealism. Oleh karena idealisme ini berdasarkan atas subjek, maka sering disebut orang pula idealisme subyektif. [120]
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Pandangan ini telah dimiliki oleh plato dan pada filsafat moderen dipelopori oleh Jb. Fichle sekeliling adhahegel.
            Idealisme mempunyai argument epistemology tersendiri dealisme secara umum selau berhubungan dengan rasionalisme ini adalah mahzab epistemology yang mengajarkan bahwa pengetahuan aprlori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya.  Lawan rasionalisme  dalam epistemilogi ialah  empirisme yang mengayakan bahwa  pengetahuan bahwa diperoleh lewat rasin (akal). Akan tetapi, ia berpendapat dengan idealisme moderen yang mengajarkan bahwa hakikat penampakan (yang tampak itu diwatak (khas) spriritual . [121]
  
4.      Empirisme
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Filsafat Empirisme  tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivism logis (logical pasitivisme) dan filsafat Ludwig Wittgenstein akan tetapi teori makna dan Empirisme selalu harus dipahami lewat  penafsiran pengalaman. Teori pengetahuan dapat diringkaskan sebagai berikut yaitu menurut orang nasionalisme ada beberapa kebenaran umum seperti " seperti kejadian tentu mempunyai prinsip dasar etika. [122] 
            Sementara itu ilmu terus maju, hasil  penyelisikannya dapat menolong umat manusia. Anggapan orang terhadap filsafat amat berkurang.  Ternayat dalam ilmu  pengetahuan yang berguna, pasti dan benar itu diperoleh  orang melalui indranya, Empirismelah yang memegang peranan amat penting bagi pengetahuan, malahan barangkali satu-satunya dasar pendpaat di atas itu disebut Empirisme para pendawa pengalaman ini sebetulnya tidak mau berfilsafat.[123]           
            Empirisme adalah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan  itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Empirisme adalah lawan nasionalisme. Untuk memahami inti filsafat Empirisme perlu memahami dahulu ciri pokok Empirisme yaitu :
-         Mengenai makna dan
-         Teori tentang pengetahuan
-         Filsafat Empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical positivisme) dan filsafat ludwing wittwgwnstein
-         Teori yang kedua, yaitu  tentang pengetahuan dapat diringkaskan sebagai berikut : menurut orang rasionalisme adalah beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian  tentu mempunyai sebab Empirisme menolak pendapat itu. [124]

5.      Eksistesialisme
Pada abad ke dua puluh, Eksistesialisme menjadi  aliran filsafat yang sangat penting. Eksistesialisme merupakan nama untuk macam-macam jenis filsafat, semua jenis ini mempunyai inti yang sama, yaitu keyakinan bahwa filsafat yang  konkret, dan tidak pada hakekatnya (eksensi), manusia  pada umumnya, ini dan itu " esensi" seseorang ditentukan selama Eksistensinya di dunia ini. [125]
            Manusia esensi adalah hasil abstraksi, sehingga pengetahuan yang diperoleh tidak meliputi manusia sebagaimana dalam kenyataanya. Eksistesialisme yang paling menonjol dirintis oleh Sorenkierkegaardy dalam semua karyanya menonjolkan penghayatan manusia sebagai penanggung eksistensinya.
Menurut Kierkegaard, eksistensi manusia menampilkan tiga tahap yaitu :
-         Tahap estetik
Ditandai oleh keterlibatan manusia pada hal ihwal sebagai  nilai keindahan
-         Tahap etik, mengandung kesadaran berlakunya nilai susila.
-         Taha religius, ditandai oleh penghayatan manusia sebagai subjek yang terjalin dalam dialog dengan tuhan. [126]

Kata dasar eksistens adalah exist yang berasal dari kata latin ex yang berarti keluar, dan sister yang  berarti eksistensi adalah berdiri dengan kelur dari diri sendiri. Menurut ajaran Eksistesialisme. Eksistens manusia didahului esensnya wujud nyata (existence) dianggap mengikuti hakikat (essence)nya, jadi hakikat manusia mempunyai ciri khas tertentu dan ciri itu menyebabkan mansuia berbeda dari makhluk lain. [127]
            Aliran filsafat eksistensi atau Eksistesialisme, karena di dalam terkandung beberapa  aliran yang sungguh-sungguh  tidak sama dalam keterangan yang amat sederhana ini akan kami majukan sifat-sifat mum bagi penganut-penganut yang dinamai orang eksistensialieme itu :
-         Orang menyuguhkan dirinya (existere) dalam kesungguhan yang tertentu.
-         Orang harus berhubungan dengan dunia
-         Orang yang merupakan kesatuan sebelum ada  perpisahan antara jiwa dan dengan ada. [128]

Eksistesialisme berasal dari kata eksistensi dari kata dasar exist. Eksistensi adalah benar-benar sebagaimana arti katanya. Yaitu filsafat yang menempatkan cara eujud manusia sebagai tema sentral. Tokoh-tokoh yang dapat digolongkan sebelum lahirnya filsafat Eksistesialisme. Filsafat Eksistesialisme rumusannya lebih sulit  wujud manusia  telah dijadikan te sentral pembahasan filsafat  renaissance seornag existensialis merumuskan kesalah materialisme itu secara singkat. [129]

6.      Pragmatisme
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika serikat sekitar tahun 1900. tokoh-tokoh  penting dari pragmatisme itu Ch. S. Pierce (1859-1914), Pragmatisme mengajar bahwa ide-ide tidak benar atau salah, melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. Seperti kita mengenai sebatang pohon dari buah buahnya demikian juga kita mengenal suatu teori atau konsep dari konsekuensi-konsekuensinya. Kalau semua akibat dari suatu teori itu baru, karena teori ini berguna, menurut Pragmatisme tidak harus dinyatakan " apa itu", melainkan " apa gunanya" atau " untuk apa?". [130]
Kata Pragmatisme diambil dar kata pragma (bahasa yunani yang berarti tidnakan, perbuatan).
Pragmatisme mula-mula diperkenalkan oleh Charles Sonders pierde (1839-1924) filosofis Amerika yang pertama kali menggunakan Pragmatisme. William James mengatakan bahwa secara ringkas Pragmatisme adalah realitas sebagaimana yang kita ketahui  secara umum Pragmatisme berarti hanya  ide (pemikiran pendapat teori) yang dapat dipraktekkan yang benar dan berguna. Tokoh-tokoh terpenting dari Pragmatisme itu CH.S.Pierce (1839-1914) W. James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914) Pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu. [131]
Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa criteria  kebenaran suatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunana bagi kehidupan nyata. Oleh sebab  itu  kebenaran filsafatnya menjadi relatf tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu. Tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Arti praktisnya, persesuaian dengan obyeknya tak mungkin dibuktikan satu-satunya ukuran bagi berfikir ialah gunanya (yunani " parma-guna) untuk mempelajari kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata. Jika pengertian itu berguna untuk menguasai dunia, bolehkan dianggap benar, asal orang tahu sejak bahwa kebenaran itu tidaklah lain dari pada kekeliruan yang berguna saja. Timbulnya Pragmatisme yang  sebenarnya ialah USA diajukan oleh HS. Piere (1839-1914).[132]

DAFTAR PUSTAKA


Shadali Ahmad,  Filsafat Umum,  Drs. H, Ahmad, Syadali, MA, Drs. Mudzakir ; Pustaka Setia, Bandung, 2004.
Prof. Dr. Ahmad Tafsir,  filsafat Umum, akal dan hati sejak thales sampai capra,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002.
Wadjid Anwar L.PH,  Nilai Filsafat Dalam Dunia Moderen Dewasa ini,  Alumni, Bandung , 1979.
Drs. Sidi Gazalba,  Sistematika Filsafat Pengantar Dunia Filsafat,  Bulan Bintang, Jakarta, 1973.
E.Sumaryono,  Hermeneutika " Sebuah Methode Filsafat" Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Drs. H. Hasbullah Bakry. SH,  Sistematika Filsfat,  Widjaya; Jakarta.
Dr. Jalaludin dan Drs. Usman Said,  Filsafat Pendidikan Islam,  PT Raja Grafindo Persada, Jkarta, 1996.
DR. Oemar Amin, Hoesin,  Fisafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta ; 1972.
William S. Sakian dan Mabel Lewis Suhakian,  Realsme Of phisophy (Combroge Mass ; Schenkan, 1965)
Alex Lanor Ofm,  Logika Selayang Pandang,  Kanisius, Yogyakarta, 1983.
Partap Sing Mehra/Drs. Jazir Burhan, MA, Pengantar Logika Tradisonal,  BINA Cipta, Bandung 1968.
Jujun S. Suriasumantri,  Filsfat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer),  Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 2005.
Dr. W. Poespopradja.LPH,SS, Logika Ilmu Menalar,  The Ronald Press Company, 1989.
DR. Juhaya S.Praja,  Alian-Aliran Filsfat dan Etika,  Yayasan Piara, Bandung, 1997.
Bernard Delfgauuw,  Sejarah Ringkas Filsfat Barat,   Tiaa Wacana, Yogyakarta, 1992.
Drs. H.A. Dardiri,  Humaniora Filsafat dan Logika,  Rajawali, Jakarta, 1986.
H. Endang Saifudin Anshara, MA, Ilmu Filsfat dan Agama,  PT Bina Mulya, Surabaya, 1987.
Prof.Ir. Poedjawijatna, Pembimbing Kearah Alam Filsafat, Rineka Cipta, Jakarta, 1994.
Dr. Harun Hadiwijaono,  Sari Filsafat Barat I,  Kanisius, Yogyakarta, 1980.
Drs. M. Baharudin,  Pengantar kealam Pemikiran Filsafat, Fakultas Ushuluddin, IAIN Raden Intang Bandar Lampung, 1995.
Prof. Dr. K. Bertens,  Sejarah Filsafat Yunani,  Kanisius, Yogyakarta, 1999.
Drs. HM,Ghozi Badrie, Drs. Dmanhuri Fattah,  Filsfat Umum,  Gunung Pesagi, Bandar Lampung, 1993.
Mohamamd Hatta,  Alam Pikiran Yunani,  Tinta Mas Indonesia, Jakarta, 1980.
Fuad Hasan, Pengantar Filsfat Barat I,  Pustaka Jaya, Jakarta, 2001.
Hanafi, MA,  Filsfat Skolastik,  Pustaka Al Husna, Jakarta, 1983. 


[1]Shadali Ahmad,  Filsafat Umum,  Drs. H. Ahmad Syadali, MA, Drs Mudzakir ; Pustaka Setia, Bandung, 2004, hal 11
[2] Shadali Ahmad,  Filsafat Umum,  Drs. H. Ahmad Syadali, MA; Drs. Mudzakir; Pustaka Setia, Bandung, 2004, hal 15
[3]Prof. DR. Ahmad, Tafsir Filsafat Umum,  Akal dan hasil sejak thales  sampai sekarang capra, PT remaja Rosda Karya, Bandung, 2002, hal 20 
[4] Wadjiz Anwar L.PH,  Nilai Filsafat Dalam Dunia Modern  Dewasa Ini,  Alumni, Bandung, 1979, hal 23.
[5]Prof. DR. Ahmad Tafsir,  Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra,  PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002, hal 14.
[6]Drs. Sidi Gazalba,  Sistematika Filsafat Pengantar Dunia Filsafat,  Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal 53.
[7] E. Sumaryana,  Hermeneutik, “ Sebuah Methode Filsafat”,  Konisius, Yogyakarta, 1999, hal 13.
[8] Prof. DR. Ahmad Tafsir,  Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai  Capra,  PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002, hal. 20.
[9] Drs. H. Hasbullah Bakry, SH,  Sistematika Filssafat,  Wijaya ; Jakarta, hal 10
[10] Dr. Jalaludin dan Drs. Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam,  PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 1996 hal 28.
[11] DR. Oemar Amin Hoesin,  Filafat Islam,  Bulan Bintang, Jakarta ;; 1972, hal 48.
[12] Drs. Sidi Gazalba,  Sistematika Filsafat Pengatar Kepada Dunia Filsafat,  Bulan Bintang ;  Jakarta, 1973 hal 45.
[13] DR. Oemar Amin Hoesin,  Filsafat Islam, Bulan Bintang,  Jakarta, 1972, hlm. 49
[14] Dr. Ahmad tafsir, Filsafat  Umum, PT Remaja  Rosda Karya, Bandung, 1990, hlm. 9
[15] Drs.  Sidi  Gazalba, Sistematika  Filsafat  Pengantar  Kepada Dunia Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta, 1972, hlm. 27
[16] Prof. Drs. H. Hasbullah Baury SH,  Sistematika  Filsafat,  Widjaya, Jakarta, 1971, hlm. 10
[17] Shadali, Ahmad,  Filsafat Umum/ Drs H. Ahmad Syadali, M.A Drs, Mudzakir, Pustaka Setia, Bandung, 2004, hlm. 26
[18] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan hati   Sejak Tales sampai James” PT Remaja  Rosdakarya, Bandung, 1993, hlm. 16
[19] Shadali, Ahmad,  Filsafat Umum/ Drs H. Ahmad Syadali, M.A Drs, Mudzakir, Pustaka Setia, Bandung, 2004, hlm. 26
[20] William S. Sahakian dan Mabel Lewis  Suhakran, realism  of  philosophy, Combrige, Massa :  Schenham, 1965, hlm. 3
[21] Prof. Drs. H. Hasbullah Bakry SH, Sistematik  Filsafat, Widjaja, Jakarta, 1971, hlm. 10
[22] Partap Sing Mehra/ Drs.  Jazir Burhan, MA. Pengantar  Logika  Tradisional, Bina Cipta, Bandung, 1968, hlm. 1
[23] Jujun S.  Suriasumantri, Filsafat ilmu (sebuah pengantar  popular), Pustaka  sinar  harapan, Jakarta, 2005, hlm. 50
[24] Dr. W. Poeparpradjo, L. Ph. S.S Logika Ilmu Nalar,  the Ronald  Piara, Bandung, 1989, hlm. 133
[25] Dr. Juhaya S. Praja,  Aliran-aliran Filsafat  dan Etika, Yayasan  Piara, Bandung, 1997, hlm. 12
[26] Jujun S. Suria  Sumantri, Filsafat Ilmu (sebuah  pengantar  popular)  Pustaka  Sinar  Harapan,  Jakarta, 1995, hlm. 55-59
[27] Drs.  Sidi Gazalba, Sistematika  Filsafat, Bulan Bintang, Bandung,  1981,  hlm. 137
[28] Bernard  Delguuw, Sejarah  Ringkasan  Filsafat  barat, Tiara  Wacana,  Yogyakarta, 1992, hlm. 133
[29] Jujun S, Suria Sumantri,  Filsafat Ilmu (Sebuah Pengantar Populer),  Pustaka Sinar Harapan, Schenkam, 1965, hal 3.
[30] Dr. W. Poesporadjo, L.ph, S.S, Logika Ilmu Menalar,  The Ronald Press Company, 1989, hal 14.
[31] Drs.  H. Dardini,  Humaniora Filsfata danLogika,  Rajawali, Jakarta, 1986, hal 72-75
[32] Shadali Ahmad,Drs H. Ahmad Syadali, MA,  Drs,Mudzakir, Filsafat Umum,  pustaka Setia, Bandung 2004,  hal 11.
[33]Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat,  Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal 67.
[34] H. Endang Saifudin Anshari, MA,  Ilmu Filsfaat dan Agama, PT Bina Mulya, Surabaya, 1987, hal 122, cetakan ke I.
[35]H. Endang Sarfuddi Anshari MA,  Ilmu Filsafat dan Agama,  PT. Bina mulaya, Surabaya, 1987, hal 171.
[36] H. Endnag Saifudin Anshari, MA,  Ilmu Filsafat dan Agama, PT Bina Mla, Surabaya, 1987, hal 171.
[37]H. Endnag Saifuddi Anshari MA,  Ilmu Filsafat dan Agama,  PT Bina Mulya, Surabaya, 1987, hal 172. 
[38]Sidi Gazalba,  Sistematika Fislafat,  Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hal 39
[39]Sidi Gazalba,  Sistematika Filsafat,  Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal 59
[40] Prof. I. A Pedjawajatna, Pembimbing Kea rah Alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 123.
[41] Dr. Harun Hadiwijana,  Sari Filsafat Barat,  Kanisius, Yogyakarta, 1980, hal 16.
[42] Drs. M. Bahrudin,  Pengantar Ke Alam Pemikiran Filsafat,  Fakultas Ushuludin IAIN Raden Intan, Bandar Lampung, 1995, hal 24.
[43] Prof. Dr. K. Bertens,  Sejaran Filsafat Yunani,  Kanisius, Yogyakata, 1999, hal 35.
[44] Drs. H. Ghazali Badrie, Drs. Damanhuri Fattah,  Filsafat Umum,  Gunung Pesagi, Bandar Lampung, 1993 hal 150.
[45] Muhammad Hatta,  ALam Pikiran Yunani,   Tinta Indonesia,  Jakarta, 1980, hal 7
[46] Mohammad Hatta, Ibid,  hal 9
[47] Drs. H,. Ghazali Badrie, Drs. Damanhuri Fattah,  Ibid,  hal 18.
[48] Drs. M. Baharudin,  Ibid,  hal 24.
[49] Prof. I.R.Poedjawijatna,  Ibid, hal 23.
[50] Prof. Dr. K. Bertens,  Ibid,  hal 37.
[51] Drs. M. Ghazali Badrie, Drs. Damanhuri Fattah, Ibid,  hal 29
[52] Dr. harun Hadijono,  Ibid,  hal 21
[53] Muhammad Hatta,  Ibid,  hal 15
[54] Dr. Harun Hadiwisono,  Ibid,  hal 21.
[55] Prof. I.R. Poedjawijatna,  Ibid,  hal 24.
[56] Dr. Harun Hadiwijono,  Sari Filsfaat Barat I,  ibid, hal 47.
[57] Prof. Dr. K. Bertens,  Ibid,  hal 190.
[58] Drs. HM. Ghozi Badrie, Drs. Damanhuri Fattah,  Ibid,  hal 81
[59] Mohammad Hatta,  Ibid,  hal 30
[60] Drs. M. Baharudin,  Ibid,  hal 44
[61] Mohammad Hatta,  Ibid,  hal 80
[62] Drs. M. Baharudin,  Ibid,  hal 41
[63] Prof. I.R. Poedjawijatna,  Ibid,  hal 31
[64] Drs. HM. Ghazali Badrie, Drs. Damanhuri Fatta,  Ibid, hal 50
[65] Dr. Harun Hadiwijono, sari filsafat Barat I,  Ibid,  hal 36.
[66] dRs. HM. Ehozi Badries, Drs. Damanuri Fattah,  Ibid,  hal 27
[67] Dr. Harun Hadiwijono,  Sari Filsafat Barat I, ibid,  hal 27
[68] Prof. I.R. Poedjawijatna,  Ibid,  hal 26
[69] Mohammad Hatta,  Ibid,  hal 24
[70] Drs. M. Baharudin,  Ibid,  hal 31
[71] Prof. Dr. K. Bertens,  Ibid,  hal 86
[72] Drs. M. Baharudin, Ibid  hal 39
[73]Mohamad Hatta,  ibid, hal 64
[74] Dr. Harun Hadiwijono,  Sari Filsfaat Barat I,  ibid, hal 33
[75] Dr. Harun Hadiwijono,  Sari Filsafat Barat I,  Ibid, hal 34
[76] Prof. Dr. K. Bertens,  Ibid,  hal 90
[77] Drs. M. Bhaarudin,  Ibid,  hal 39
[78] Mohammad Hatta,  Ibid,  Hal 66
[79] Prof. I.R. Poedjawijatna,  Ibid,  hal 29
[80]Drs. M. Baharudin,  Ibid,  hal 29 
[81] Mohammad Hatta,  Ibid,  hal 21
[82] Prof. Dr. k. Bertens,  Ibid,  hal 59
[83] Drs. M. Ghazali Badrie,  Drs  Damanhuri Fattah,  Ibid,  hal 25
[84] Dr. Harun Hadawijono,  Sari Filsafat Barat I,  Ibid, hal 38
[85] Drs. HM. Ghozi Badrie, Drs. Damanhuri Fattah,  Ibid, hal 58
[86] Prof. I.R.Poedjawijana, Ibid,  hal 32
[87] Fuad Hasan,  Pengantar Filsafat Barat,  Pustaka Jaya, Jakarta, 2001. hal 29
[88] A. Hanafi, M.A,  Filsafat Skolistik,  Pustaka Alhusna, Jakarta, 1983, hal 56
[89] A. Hanafi, MA.  Ibid,  hal 59
[90] A. Hanafi, MA,  Ibid,  hal 61
[91] A. Hanafi, MA, Ibid,  hal 57
[92] Peof. I.R.Poedjawijatna,  Pembimbing ke arah filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal 47
[93] Dr. Harun Hiadiwijono,  Sari Sejarah Filsafat Barat I,  Konsius, Yogyakarta, 1980, hal 66
[94] Dr. Hrun Hadiwijono,  Ibid,  hal 67
[95] Muhammad Hatta,  Alam Pikiran Yunani,  PT. Tirtanamas Indonesia,Jakarta, 1980,hal 170
[96] Mohammad Hatta,Ibid,
[97] Prof. I.R Poedjawijatna,  Pembimbing Ke Arah alam Filosofis,  Rineka Cipta, Jakaa, 1983, hal 47
[98] Dr. Harun Hadiwijono,  Sari Sejarah Filsafat Barat II,  Konsius, Yogyakarta, 1980, hal 79
[99] Dr.Harun Hadiwijono,
[100]  A. Harun  Hadiwijono,  Ibid,
[101]  A. Hanafi, MA.  Ibid,  hal 91
[102] A. Hanafi, MA.  Ibid,  hal 35
[103] A. Hanafi, MA. Ibid, hal 95
[104] Prof. I.R. Poedjawijatna,  Pembimbing Ke Arah Alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal 78
[105] Drs. H. Ahmad Syadali, MA.  Drs. Mudzakir,  Ibid,  hal 160
[106]Drs. H. ahmad Syadali, MA. Drs, Mudzakir,  Ibid,  hal 160
[107] DR. Harusn hadiwijono,  Sari Sejarah Filsafat Barat,  Kanisius, Yogyakarta, 1980, hal 104
[108] DR. Harun Hadiwijono,  Ibid,  hal 105
[109] DR. Ahmad Tafsir, Ibid,  hal 86 - 88
[110]Prof. I.R. Poedjawinata,  Pembimbing Kearah alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta 1994. Hal 89 
[111] Prof. Ir. Poedjawijatna,  Pembimbing kearah alam filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 98.
[112]Dr. H. Ahmad Syadal MA, Drs Mudzakir,  Filsafat Umum,  Pustaka Setia, Bandung 2005, hal 104.
[113] Fuad Hassan,  Pengantar Filsafat Barat I,  Pustaka Jayam Jakarta, 2001, hal 61
[114] Prof DR. Ahmad Tafsir,  Filsafat Umum,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1990, hal 124.
[115]Drs. M. Baharudin,  Pengantar Kea lam Pemkiran Filsafat,  Fakultas Ushuluddin,   Bandar Lampung, 1994, hal 68
[116] Prof. Dr. Ahmad Tafsir,  FilsafAT Umum,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1990, hal 127
[117]Prof. Ir. Poedjawijatna,  Pembimbing kearah Alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 99.
[118] Drs. H. Ahmad Syadali MA, Drs. Muzzakir,  Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung, 1004,, hal 106.
[119] Prof. Dr. Ahmad Tafsir  Filsafat Umum,  PT Remaja Risda Karya, Bandung, 1990, hal 144
[120] Prof. IR. Poedjawijatna,  Pembimbing Kearah alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 114
[121] Drs. H. Ahmad Syadali MA, Drs. Mudzakir,  Filsafat Umum, Pustaka Setia, Bandung, 1004, hal 110
[122] Prod. Dr. Ahmad Tafsir,  Filsfat Umum,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1990, hal 73
[123] Prof. IR. Poedjawijatna, Pembimbing Keraah alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 103
[124] Drs. Ahmad Syadali MA, Drs. Mudzakir,  Filsafat Umum,  Pustaka  Setia, Bandung, 2004, hal 116
[125] Drs. M. Baharudin,  Pengantar Kealam Pemikiran Filsafat,  Fakultas Ushulddin, Bandar Lampung, 1994, hal 71
[126] Fuad Hassan, Pengantar Filsafat Barat,  Pustaka Jaya, Jakarta, 2001, hal 124.
[127] Prof. Dr. Ahmad Tafsir,  Filsafat Umum,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1990 hal 217.
[128]Ir. Podjawijatna,  Pembimbing Kearah alam Filsafat,  Rineka Cipta, Jakarta, 1994, hal 142
[129] Drs. H. Ahmad Syadali MA, Drs. Mudzakir,  Filsafat Umum,  Pustaka Setia,  Bandung, 2004, hal 127
[130] Drs. M. Baharudin,  Pengantar Kelaam Pmeikiran Filsafat,  Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, Lampung, Bandar Lampung tahun 1994, hal 72.
[131] Drs. Ahmad Syadali MA, Drs. Mudzakir,  Filsafat Umum,  Pustaka Setia, Bandung, 2004, hal 130.
[132] Prof. Dr. Ahmad Tafsir,  Filsafat Umum,  PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1990, hal 219 

0 komentar:

Poskan Komentar

ShareThis

banner a href="http://www.justbeenpaid.com/?r=XHhV4Ln94t"> banner